Kematian Mengancam Anak-anak Gaza Butuh Tentara Dan Negara


Kematian Mengancam Anak-anak Gaza Butuh Tentara Dan Negara

Oleh: Umi Kulsum

Israel telah melanggar semua peraturan perang di Jalur Gaza. Selama kurang lebih kurun waktu 14 bulan terakhir, Israel telah melancarkan perang genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, ungkap Komisioner Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini pada Minggu (22/12). Perang ini telah menewaskan lebih dari 45.200 orang, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

 

Ditegaskan bahwa gencatan senjata di Gaza sudah sangat terdesak, menyerukan penghentian serangan untuk melindungi warga sipil. ICC atau Mahkamah Pidana Internasional menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel dan mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Galant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza (Tirto.id, 23/12/2024).

 

Dilansir dari Beritasatu.com, 25 Desember 2024, bahwa setiap satu jam, satu anak tewas di Jalur Gaza akibat serangan brutal Israel, hal ini dinyatakan oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Selasa (24/12/2024). Mereka yang selamat pun terluka secara fisik dan emosional, tanpa akses ke Pendidikan.

 

Tak hanya itu, Israel itu juga menyerang Rumah Sakit Kamal Adwan yang menjadi tanda hancurnya sarana kesehatan utama yang masih beroperasi di Gaza Utara menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat (28/12/2024). Israel terus menghalau kiriman bantuan kemanusiaan, seperti pangan, obat-obatan, dan bahan bakar yang penting untuk bertahan hidup. Rakyat Palestina terancam kelaparan (Republika.co.id, 28/12/2024).

 

Dalam perang ini setidaknya 17.492 anak dilaporkan tewas dalam hampir 15 bulan konflik. Menurut Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell, seperti dilansir Al Jazeera, Sabtu (28/12) bahwa tahun 2024 telah menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah tercatat bagi anak-anak dalam sejarah UNICEF, baik dalam hal jumlah anak yang terkena dampak maupun tingkat dampaknya terhadap kehidupan mereka (CNNIndonesia.com, 28/12/2024).

 

Lebih parahnya lagi anak-anak di Gaza menghadapi risiko kematian akibat cuaca dingin karena ketiadaan tempat tinggal yang memadai ungkap Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Pemblokadean bahan kebutuhan secara tidak manusiawi (Republik.co.id, 29/12/2024).

 

Kondisi Gaza terutama anak-anak makin mengenaskan. Para pemimpin dunia yang kerap menjadikan isu Palestina hanya untuk pencitraan dan justru mengambil solusi 2 negara arahan Barat (pengusung kapitalisme) yang jelas tidak bisa menyelesaikan perang ideologi ini. Itu menunjukkan bahwa keberpihakkan mereka tidak tulus untuk kemaslahatan tanah Palestina.

 

Kisah anak-anak Gaza yang menjadi yatim piatu akibat konflik. Bayi-bayi terlahir di tengah kengerian perang bahkan ada yang belum sempat merasakan pelukan ibu dan ayahnya. Anak-anak yang masih hidup banyak yang mengalami cedera yang mayoritas berdampak serius dan mengubah hidup mereka.

 

Tidak ada tempat aman di Palestina. Belum lagi cuaca dingin yang menyelimuti Gaza sehingga banyak bayi meninggal akibat hipotermia. Dimana mata dan hati para pemimpin dunia? Apakah belum cukup menyedihkan penderitaan yang dialami mereka?

 

Lalu bagaimana dengan hak asasi manusia, melihat kondisi Palestina yang mencekam, jeritan orang yang kelaparan, tangisan pilu anak-anak. Tragisnya para pemimpin dunia hanya bisa mengecam, mengutuk dan memberikan donasi sekedarnya, tak ada kemampuan mengirim tentaranya untuk mengusir zionis tersebut.

 

Ironisnya banyak negeri-negeri muslim tetap menjalin hubungan dengan entitas Zionis dan sekutunya, tentu saja mereka sudah mengkhianati persaudaraan seakidah dengan muslim Palestina. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa keadilan bagi Palestina maupun kaum muslim di seluruh dunia, mustahil diperoleh dari sistem kapitalisme yang memang lahir dari rahim musuh-musuh Islam.

 

Semua seruan seakan tidak mempan untuk menahan kebrutalan genosida ini, tak terkecuali badan internasional PBB tak sanggup menuntaskan krisis di Palestina yang sudah melebihi batas kemanusiaan. Sangat jelas bahwa kita tak bisa mengharapkan solusi dari Internasional. Yang menakjubkannya, situasi ini tidak sedikit pun menjadikan warga Palestina ciut atau berniat “hijrah” meninggalkan Palestina. Justru sebaliknya, azam mereka makin kuat untuk bertahan, bahkan melawan hingga titik darah penghabisan.

 

Dikarenakan menurut sejarah, status tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang menjadi milik kaum muslim hingga hari kiamat. Untuk itu, sungguh tidak layak tanah Palestina dikuasai kafir penjajah. Kesedihan dan penderitaan yang dialami rakyat Palestina ini akibat tidak adanya junnah atau pelindung umat seperti pada masa Kekhalifahan. Palestina tak akan menderita jika masih berdiri negara Khilafah yang tangguh, berani membela negara muslim dari segala kezaliman.

 

Sepatutnya, umat Islam di seluruh penjuru dunia membela rakyat Palestina. Dikarenakan Allah SWT sudah memperingatkan kita, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan.” (QS Al-Anfal [8]: 72). Solusinya dengan mewujudkan persatuan hakiki yang akan menghilangkan batas-batas wilayah negeri satu dengan negeri lain.

 

Pentingnya orang tua, terutama seorang ibu, wajib membina dan menyiapkan anak-anaknya menjadi pembela Islam terpercaya, selalu berada dalam garis terdepan barisan dakwah Islam kaffah. Bergabung dalam kelompok dakwah yang berjuang menegakkan kembalinya Khilafah.

 

Peran kita dibutuhkan terutama mengopinikan pemahaman yang benar tentang Palestina. Pembinaan dengan tsaqafah Islam dan pemahaman Islam politik sehingga menjadikan kaum muslim khususnya para pemuda sebagai sosok-sosok yang berkepribadian Islam dengan memiliki pola pikir (akliah) dan pola sikap (nafsiah) Islam yang kaffah.

 

Dengan demikian dapat menggerakkan pemuda-pemuda terkhusus di Timur Tengah untuk bangkit melawan rezim di negeri mereka dan bergerak mengirimkan tentara ke Palestina untuk membebaskan wilayah tersebut dari penjajah Zionis Yahudi. Dengan demikian tidak hanya anak-anak Palestina yang bisa dibebaskan dari konflik dan penjajahan di negerinya, tetapi juga anak-anak di negeri-negeri muslim lain di seluruh dunia. Sungguh, pembelaan terhadap Islam dan kaum muslim adalah suatu kewajiban.

Wallahualam bissawab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/RVCkiB2
January 12, 2025 at 08:49AM

Belum ada Komentar untuk "Kematian Mengancam Anak-anak Gaza Butuh Tentara Dan Negara"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel