Toleransi Kebablasan Selalu Terjadi di dalam Negeri


Toleransi Kebablasan Selalu Terjadi di dalam Negeri

Oleh Maryatiningsih
Aktivis Muslimah

Beberapa hari lagi Nataru akan dirayakan di berbagai kota di Indonesia, berbagai persiapan termasuk keamanan dan kenyamanan dipastikan semaksimal mungkin untuk warga, terutama umat kristiani Yang merayakan Natal . Eri menyampaikan bahwa Pemkot telah berkoordinasi dengan seluruh gereja di Surabaya untuk memastikan pengamanan berlangsung optimal. Langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan selama perayaan Natal.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga menggandeng berbagai organisasi masyarakat (ormas) dan kepolisian untuk menjaga suasana kondusif selama Nataru. “Kita juga rapatkan dengan kepolisian terkait dengan keamanan Natal dan Tahun Baru,” tambahnya.

Sebagai upaya memperkuat toleransi dan kerukunan umat beragama, Eri mengajak seluruh warga Surabaya untuk terus menjaga keharmonisan yang telah menjadi ciri khas Kota Pahlawan.

Seruan toleransi dan kerukunan umat beragama berkali-kali terjadi di negeri ini, padahal bertentangan dengan ajaran Islam oleh menteri agama, kepala daerah dan pejabat Lainnya. Hal ini terjadi karena tidak ada pemahaman tugas penguasa dan pejabat negara dalam menjaga urusan umat, termasuk dalam penjagaan negara atas aqidah umat. Negara masih menggunakan HAM sebagai pijakan dan ditambah masifnya kampanye moderasi beragama membuat umat semakin jauh dari pemahaman yang lurus .

Maka umat harus senantiasa waspada dan menjaga diri dalam ketaatan kepada kepada Allah SWT. Karena umat di akhir tahun tidak bisa ditebak misalnya tampak di sejumlah tempat umum yang menggunakan dekorasi Natal, seperti di mal, supermarket, perkantoran, atau hotel. Hal ini biasanya diikuti dengan penggunaan atribut―seperti topi dan kostum sinterklas―oleh para pegawai yang bekerja di tempat tersebut, padahal sangat mungkin mereka muslim.

Dekorasi bertema natal di lokasi-lokasi publik bahkan dinarasikan sebagai lokasi yang instagramable untuk berfoto. Narasi semacam ini justru membuat masyarakat tertarik demi memperoleh foto-foto yang menurut mereka bagus sehingga bisa dipajang di akun media sosial, meski dengan atribut yang bertentangan dengan akidah Islam mereka.Hal yang sama juga akan berulang saat tahun baru. Hal yang sama juga akan berulang saat tahun baru. Banyak masyarakat dari kalangan muslim yang mengadakan acara-acara pada momen pergantian tahun, bahkan tidak jarang mewarnainya dengan berbagai pesta yang lekat dengan aktivitas maksiat, seperti campur baur antar lawan jenis maupun pesta seks dan narkoba.

Mengingat beragama aktivitas di momen Nataru itu, sungguh tidak tepat jika ada imbauan sebagaimana dari para pejabat tadi. Mereka mungkin bisa berkelit dengan pernyataan lain bahwa imbauan menjaga suasana kondusif jelang/selama Nataru itu tidak hanya ditujukan kepada kaum muslim. Hanya saja, mayoritas penduduk negeri ini jelas-jelas kaum muslim. Tentu aneh jika seruan toleransi malah digencarkan kepada kaum muslim sebagai penduduk mayoritas, apalagi jelang Nataru yang notabene hari raya kaum nonmuslim.

Sebabnya, pemicu berbagai kasus intoleransi selama ini toh justru sering kali datangnya bukan dari kaum muslim. Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang terjadi pada Juli 2024 di Papua, saat jemaah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Penabur Jaya Asri melakukan aksi penolakan pembangunan Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Nur al-Fithrah di Perumahan Jaya Asri Entro, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua.Masalah lainnya, toleransi yang diserukan saat ini bertentangan dengan akidah Islam. Wujud toleransi lebih kental dengan pencampuran ajaran Islam dengan ide-ide dari luar Islam. Toleransi juga digambarkan berupa ucapan selamat hari raya dari kaum muslim kepada nonmuslim, padahal itu toleransi versi sekuler yang tentu saja maknanya keliru dan menyesatkan kaum muslim.

Jelas, bukan toleransi dalam makna syar’i yang kaum muslim pahami. Yang terjadi, toleransi yang dimaksudkan adalah agar rakyat mayoritas (muslim) “diharuskan” untuk menghormati minoritas (non muslim). Ini adalah toleransi versi sekuler yang bisa merobohkan keimanan kaum muslim sebagai akibat minimnya pemahaman umat sehingga mereka mudah terbawa arus yang bertentangan dengan syariat Islam. Toleransi tersebut justru bertujuan mengacak-acak akidah umat Islam.

Batasan Toleransi dalam Islam Allah Taala berfirman, “Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah, agamaku.’” (QS Al-Kafirun [109]: 1—6).

Allah Taala juga berfirman dalam ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Oleh karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS Al-Baqarah [2]: 256).

Ayat-ayat di atas adalah batasan konsep toleransi menurut syariat Islam. Selain itu, Allah juga berfirman dalam ayat, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 42). Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar.” (Muttafaqun ‘alaih).

Islam tidak memiliki satupun ajaran untuk bersikap intoleran. Jika ada pihak-pihak yang menyatakan umat Islam intoleran, hal itu jelas fitnah dan tudingan yang tidak berdasar. Islam justru sudah mengajarkan dan mengatur perihal toleransi sejak Islam pertama kali datang.
Meski tidak dilarang, perayaan hari besar agama mereka tetap diatur oleh Khilafah. Selain berdasarkan klausul dalam akad dzimmah mereka, filosofi “al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam) tetap harus dipegang teguh. Untuk itu, perayaan ini dibatasi dalam gereja atau komunitas mereka. Di ruang publik, seperti televisi, radio, internet, atau jejaring sosial yang bisa diakses dengan bebas oleh masyarakat, hal itu tidak boleh ditampilkan karena bertentangan dengan akad dzimmah mereka.

Dalam buku Syakhsiyah Umar wa Aruhu, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi menulis bahwa Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah memiliki seorang budak laki-laki beragama Nasrani yang bernama Asyiq. Asyiq bercerita, “Saya adalah seorang budak beragama Nasrani milik Umar. Umar berkata kepada saya, ‘Masuk Islam-lah kamu agar kami dapat menugaskan kamu untuk menangani beberapa urusan kaum muslim. Sebab kami tidak pantas menugaskan untuk mengurusi urusan kami dengan orang yang bukan dari golongan kami.’ Akan tetapi, saya menolak tawaran Umar. Lalu Umar membacakan firman Allah (yang artinya), ‘Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam.’”

Imam Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Khalifah Umar ra. pernah menulis sebuah perjanjian dengan penduduk Ilia (Al-Quds). Dalam surat perjanjian tersebut Khalifah Umar ra. menjelaskan tentang pemberian jaminan keamanan bagi penduduk Ilia atas diri, harta, salib, dan gereja-gereja mereka.

Hal serupa dilakukan oleh Gubernur Mesir Amr bin al-Ash yang pernah menulis surat perjanjian kepada penduduk Qibthi (Kristen Koptik) di Mesir. Surat perjanjian itu berbunyi, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah apa yang diberikan oleh Amr bin al-Ash kepada penduduk Mesir berupa jaminan keamanan atas diri, agama, harta benda, gereja-gereja, salib, darat, dan laut mereka.”

Demikianlah gambaran toleransi dalam sistem kehidupan Islam, yakni tanpa harus mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain. Selain itu dalam Khilafah, di satu sisi kaum muslim dijaga akidahnya, sedangkan di sisi lain Khilafah memberikan perlindungan kepada ahlu dzimmah yang menjadi warganya. Fakta sejarah ini terjadi berabad-abad lamanya sepanjang tegaknya peradaban Islam.

 

Wallahualam bissawab.



from Suara Inqilabi https://ift.tt/qAwWhxo
December 24, 2024 at 02:21PM

Belum ada Komentar untuk "Toleransi Kebablasan Selalu Terjadi di dalam Negeri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel