Masyarakat Kapitalis, Dapatkan Rumah Hanya Utopis?


Masyarakat Kapitalis, Dapatkan Rumah Hanya Utopis?

Oleh : Isma Adibah

Ketua Satgas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo dalam menanggapi program pemerintah yakni pembangunan 3 juta rumah layak huni menyatakan, bahwa saat ini terdapat kurang lebih 11 juta keluarga yang antri untuk mendapatkan rumah layak huni. Terdapat 27 juta keluarga tinggal di rumah yang tidak layak huni. “Dengan lantai yang berupa tanah, dapat air yang tidak bersih, air yang penuh kuman, penuh bakteri dengan virus dan sebagainya. Itu yang menyebabkan stunting juga,” ujarnya. (detikfinance.com,5/12)

Hari ini memiliki rumah layak huni masih menjadi impian jutaan keluarga. Harga tanah yang mahal akibat tata kelola perumahan diatur berdasar Kapitalisme. Segelintir orang menguasai jutaan lahan hektare tanah. Mereka diberi kebebasan dalam kepemilikan dan menentukan harga jual tanah yang bahkan tak dapat dijangkau oleh keluarga yang bekerja dengan gaji pas-pasan. Bahkan bagi seorang karyawan dengan gaji UMK (Upah Minimum Kabupaten), saat diakumulasi selama usia produktif mereka bekerja, tak juga mampu untuk mendapatkan rumah layak. Belum lagi harga material bahan bangunan dan jasa pembangunan yang juga mahal, membuat jutaan keluarga dalam memiliki rumah benar-benar utopis.

Sulitnya rakyat mendapat rumah, apalagi rumah layak huni penyebabnya adalah karena dalam Sistem Kapitalisme, negara berperan hanya sebagai regulator atau penghubung antara produsen dan konsumen. Negara dengan wewenangnya memuluskan pihak swasta untuk mengendalikan pembangunan perumahan rakyat demi mendapatkan untung (kapitalisasi). Namun, narasi yang digunakan seolah-olah negara sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya akan rumah layak. Sekularisasi tetap dipertahankan agar rakyat mudah diperdayakan.

Gaya kepemimpinan populis seperti ini lahir dari Sistem Kapitalisme yang jauh dari ria’yah. Pasalnya, semenjak mencalonkan diri menjadi pemimpin, para calon menggaet banyak pihak untuk mencari dukungan. Tentu saja kepada para pengusaha kaya yang menguasai banyak modal. Mereka saling bekerjasama untuk mengembalikan modal saat calon duduk di kursi kekuasaan.

Gaya kepemimpinan yang demikian juga kosong dari dimensi ruhiyah. Para pemimpin dan pejabatnya enggan menggunakan aturan hidup dari Sang Pencipta, termasuk aturan dalam bernegara. Mereka tidak menyadari bahwa segala perbuatan mereka selama di dunia akan ditanya nanti di akhirat, tentang hartanya, didapat dari mana. Tentang amanahnya, apakah sudah ditunaikan dengan sebaiknya-baiknya, tentang umur dan nikmat Allah yang lainnya.

Dalam pandangan Islam, rumah merupakan salah satu kebutuhan primer, disamping sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang wajib dijamin oleh negara melalui penerapan Sistem Politik Ekonomi Islam. Adanya rumah layak turut menentukan hadirnya kebahagiaan dalam rumah tangga. Sebaliknya, kondisi rumah yang tidak layak, apalagi yang berada di bantaran sungai, gang-gang sempit yang pengap dan kumuh tentu akan banyak mendatangkan penyakit. Apalagi biaya kesehatan juga mahal, keluarga miskin akan selalu dirundung duka akibat negara salah kelola.

Dengan penerapan Sistem Politik dan Ekonomi Islam, negara menciptakan support system sehingga rakyat dengan mudah memiliki rumah layak. Mulai dari Sistem Politik Sentralisasi, Sistem Ekonomi dan Keuangan, Sistem Pendidikan, dll. Hal ini suatu keniscayaan, sebab penguasa muslim benar-benar akan menunaikan amanahnya sesuai pesan baginda Rasulullah Muhammad saw, “Kalian semua adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan dimintai pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sungguh para pemimpin saat ini kesetiaannya kepada rakyat patut dipertanyakan. Bukankah Indonesia kaya sumber daya alamnya, mengapa masih ada keluarga yang tak mendapatkan rumah? Hanya Dengan kepemimpinan Islam lah harapan puluhan juta keluarga di negeri ini dapat terwujud.

 

Wallahu a’lam bi ash-showab.



from Suara Inqilabi https://ift.tt/gPB0zH6
December 25, 2024 at 10:18AM

Belum ada Komentar untuk "Masyarakat Kapitalis, Dapatkan Rumah Hanya Utopis?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel