Bencana Datang Bertubi, Segera Bertaubat dan Taat Syariat

Bencana Datang Bertubi, Segera Bertaubat dan Taat Syariat
Oleh: Khodijah Ummu Hannan
Bencana alam kembali melanda berbagai wilayah akhir-akhir ini. Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga pergerakan tanah. Bencana tersebut bukan sekadar fenomena alam, tetapi adanya andil tangan manusia yang telah menyebabkan kerusakan alam. Baik eksploitasi alam, pembangunan yang abai terhadap lingkungan, dan kurangnya kesadaran untuk menjaga keseimbangan bumi sebagai amanah dari sang Illahi.
Indonesia memasuki puncak musim hujan di akhir tahun, ancaman bencana alam terus meningkat. Sepanjang 2024, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 360 peristiwa banjir. Sebagian besar terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan ekstrem, tetapi juga dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan akibat aktivitas manusia (goodstats.id 4/4/24).
Misalnya, pendangkalan sungai akibat eksploitasi lahan memperparah risiko banjir di Sukabumi.
Hujan deras yang terus mengguyur Sukabumi sejak 2 Desember 2024 juga mengakibatkan Sungai Cimandiri meluap, merendam puluhan rumah di Kampung Mariuk, RT 01/RW 01, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Banjir yang disertai longsor ini tidak hanya memutus akses jalan, tetapi juga menelan korban jiwa. Sebanyak 10 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 2 orang masih dalam pencarian hingga saat ini (DetikJabar, 8 Desember 2024).
Intensitas hujan akan terus meningkat hingga pekan ketiga Desember, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi lainnya seperti longsor dan banjir di berbagai wilayah, hal tersebut diperingatkan oleh BMKG (katadata,2/12/24).
Bencana Berulang Ulah Siapa?
Bencana sering kali dianggap sebagai takdir alam semata, namun kenyataannya banyak malapetaka yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Sukabumi, sepanjang tahun 2024, tercatat mengalami banjir lebih dari lima kali, yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia.
Kerusakan hutan yang mempercepat aliran air ke pemukiman, sedimentasi akibat penebangan liar, serta perubahan tutupan lahan dari vegetasi alami menjadi area non-hutan, adalah penyebab utama. Aktivitas-aktivitas ini mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air, yang pada gilirannya meningkatkan risiko aliran air deras yang membawa material ke pemukiman. Selain itu, pembangunan yang tidak memperhatikan kaidah lingkungan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) semakin memperburuk dampak banjir (Tirto.id, 6 November 2024).
Eksploitasi alam di Indonesia, yang sering kali disamarkan berkedok pembangunan, telah memperburuk banyak masalah ekologis, termasuk bencana alam. Salah satu contohnya adalah ekspansi perkebunan sawit dan tambang telah menyebabkan kerusakan hutan. Di tahun 2023, lebih dari 2.000 titik kebakaran terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut yang dikelola perusahaan besar, banyak di antaranya terjadi di konsesi yang seharusnya dilindungi (mongobay.id, 4/1/24).
Aktivitas ini mengurangi daya resap tanah, mempercepat erosi, dan mengubah siklus hidrologi, yang beakibat pada peningkatan banjir dan longsor (omong-omong.com,4/10/24).
Pemerintah semestinya lebih memperhatikan keberlanjutan dalam pembangunan, mengingat kerusakan yang terjadi semakin nyata dalam bentuk bencana alam yang merugikan banyak pihak.
Namun sayang, semua itu tidak bisa diharapkan, karena pemerintah saat ini menganut sistem kapitalisme liberalis, mereka acapkali mendukung kepentingan sektor bisnis besar daripada memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Mitigasi seperti Undang-Undang Cipta Kerja (2020) dan Undang-Undang No. 3/2020 tentang Mineral dan Batubara memberikan kelonggaran izin bagi perusahaan untuk mempercepat eksploitasi sumber daya alam, meskipun berdampak pada kerusakan lingkungan dan bencana ekologis seperti banjir dan longsor. Selain itu, banyak izin pembukaan lahan di kawasan hutan diberikan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem.
Segera Bertaubat
Saatnya kita merenung dan bermuhasabah, sejauh mana kita telah menjalankan peran sebagai khalifahfii ardi?.
Mungkinkah kita telah abai bahkan melupakan aturan-Nya? Ataukah kita terlalu sibuk mengejar kepentingan sesaat hingga melupakan dampaknya bagi masa depan?
Meskipun Allah telah memperingatkan melalui firmannya dalam QS. Ar-Rumm -41, namun kita tetap abai. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dalil lain ditunjukkan dalam QS. Al-Baqarah :205, “Dan apabila ia pergi, ia berusaha merusak di bumi dan merusak tanaman serta binatang ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
Dari dua dalil di atas, Allah memerintahkan agar manusia segera bertaubat atas apa yang telah diperbuatnya yaitu melakukan kerusakan, juga segera bertaubat, kembali kepada aturanNya, dengan menerapkan syariat diseluruh aspek kehidupan.
Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.Al-Araf: 96).
Ayat di atas menunjukkan bahwa keimanan dan ketakwaan membawa keberkahan, baik dari langit (seperti hujan) maupun dari bumi (seperti hasil panen yang melimpah). Namun, jika manusia berpaling dari ayat-ayat Allah dan berbuat kerusakan, manusia akan mengalami kesulitan, termasuk bencana alam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah akan mengganti bencana dengan keberkahan apabila manusia kembali kepada-Nya dengan keimanan dan takwa.
Untuk mewujudkan keberkahan ini, hanya bisa terwujud ketika syariat Islam diterapkan secara sistematis dan komprehensif, dalam bingkai negara khilafah Islamiyah.
Khalifah sebagai pemimpin akan menjalankan tugasnya dengan baik, karena menyadari bahwa kepemimpinan yang diembannya adalah amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam menghadapi musibah Islam telah memberikan tuntutan yaitu dengan sabar dan ikhlas (lihat dalam surat al-Baqarah ayat 155-157), karena musibah merupakan qada dari Allah. Namun, selain itu pemimpin dalam negara Islam juga akan menerapkan kebijakan untuk melindungi umatnya dan berusaha untuk meminimalisasi bencana yang dibuat disebabkan oleh tangan manusia.
Khalifah akan melakukan pengelolaan sumber daya secara adil dan berkelanjutan, melarang ekploitasi alam berlebihan, menjaga sumber air juga membuat mitigasi yanga tegas supaya manusia tidak melakukan pengrusakan.
Berbagai upaya dilakukan oleh para kholifah untuk melakukan pencegahan bencana seperti banjir dapat kita lihat sejak masa kekhilafan dinasti Ummayah, Haddan Marwan dalam makalahnya di Muslimheritage, Bani Ummayah membangun bendungan di sungai dan lembah, serta membangun jaringan pengalihan air. Seperti pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan yang memerintahkan pembangunan bendungan di Hijaz untuk mencegah banjir bandang sekaligus menunjang irigasi pertanian dan peternakan.
Khalifah dari Dinasti Abbasiyah juga membangun kanal-kanal besar, seperti Kanal Nahrawan di sekitar Baghdad, yang berfungsi untuk pengendalian air, irigasi, dan pasokan air bersih bagi kota-kota besar. Di era Andalusia, umat Islam membangun sejumlah bendungan di Spanyol, seperti di Sungai Turia, yang tekniknya masih dianggap canggih hingga kini karena mampu bertahan ribuan tahun dan efektif mengendalikan banjir (islamdigestrepublika.co.id, 17/3/24).
Itulah bukti nyata bagaimana upaya para pemimpin Islam dalam mengahadapi musibah. Semua itu hanya bisa didapatkan dalam kepemimpinan Islam. Maka, mari kita berjuang bersama untuk menghadirkan kembali pemimpin yang mengurusi umatnya dengan didasarkan kepada keimanan kepada Allah Swt.
Wallahu’alam bish-shawwab
from Suara Inqilabi https://ift.tt/WSqaeYy
December 22, 2024 at 10:49PM
Belum ada Komentar untuk "Bencana Datang Bertubi, Segera Bertaubat dan Taat Syariat"
Posting Komentar