Pilgub 2024 : Cukupkah Dengan Popularitas?

Pilgub 2024 : Cukupkah Dengan Popularitas?
Oleh Euis Purnama Sari
Ibu Rumah Tangga
Euforia Pilgub Jabar 2024 semakin kentara. Seiring telah ditetapkannya 4 bakal pasangan calon (bapaslon) di Pilgub Jabar 2024. Adapun keempat bapaslon yang telah terdaftar tersebut adalah Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, Acep Adang Ruhiyat-Gitalis Dwi Natarina alias Gita KDI dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja.
Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi meriset kelemahan dan pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan empat bakal pasangan calon (bapaslon) di Pilgub Jabar 2024. Menurutnya, Pasca pencalonan Ridwan Kamil di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, suara pendukung Ridwan Kamil diprediksi mengarah ke pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan. Nama Dedi Mulyadi juga muncul dalam top of mind di warga Jabar. Namanya disebut langsung oleh 40,7 persen partisipan.
Burhan juga menambahkan, “Alasan memilih itu kami tanyakan, paling dominan di Jabar itu faktor popularitas. Jadi kekuatannya di sini mungkin karena dia rajin muter, atau karena lawannya belum panaskan mesin. Dia kan pernah maju meski jadi calon wakil gubernur, tapi sudah punya jejak elektoral yang panjang,”. Demikian pula dengan Erwan Setiawan, anak bos Persib Umuh Muchtar yang jelas juga punya kepopuleran di mata Bobotoh.
Sedangkan Ahmad Syaikhu – Ilham Habibie basis pemilihnya mayoritas dari relawan PKS atau dari Bekasi karena pernah jadi Wakil Wali Kota Bekasi. Pemilih Syaikhu itu dari basis Bekasi dan PKS karena dia presidennya, jadi sangat lokal,” sambungnya. ( Detikjabar, Jumat 13 Sept 2024)
Sementara itu, Jeje-Ronal sebetulnya cukup populer di Pangandaran dan sekitarnya, Ronal memang belum kelihatan polanya di dunia politik tapi suaranya dari kalangan artis. Jeje punya daya ikat politik di Pangandaran jadi itu bisa memberikan sumbangsih. Keduanya dimungkinkan mendapat suara dari segmen partisipan PDIP. Adapun Acep memiliki suara dari Pesantren, sebagai Ketua Dewan Syuro PKB, akar rumput pesantren yang suaranya lumayan. Acep belum terlalu dikenal dan penting untuk keluar dari basis utamanya. Lalu Gita bisa ambil segmen satu-satunya perempuan, ini positioning meski narasinya belum muncul dari Gita untuk menguatkan sosok Acep di Pilgub.
Dari penelusuran diatas dapat kita simpulkan bahwa indikator kuat atau lemahnya 4 Bapaslon Pilgub 2024 ini berdasarkan elektabilitas semata, bukan indikator kapabilitas pemimpin. Padahal amanah yang akan diemban oleh mereka adalah tanggung jawab yang sangat besar, yakni memimpin dan mengurus urusan umat. Tentu tidak bisa hanya mengandalkan popularitas saja.
Tidak heran jika dalam demokrasi rakyat akan sangat dibutuhkan hanya dalam pemilihan umum saja untuk diambil suaranya, setelah terpilih maka rakyat akan ditinggalkan. Tidak hanya itu, mereka juga akan membuat kebijakan yang akan menguntungkan dirinya dan kelompoknya, kemudian mencari cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Tidak sedikit dari orang-orang terpilih yang akhirnya melakukan korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan.
Hal ini terjadi dari pemilu ke pemilu, tidak hanya dalam Pilgub saja bahkan Pilkada hingga Pilpres.
Begitulah demokrasi, karena dalam mengangkat pemimpin dengan mengumpulkan suara terbanyak, maka yang terjadi pencalonan pun berdasarkan popularitas semata. Bukan berdasarkan kapabilitas.
Berbeda dengan Islam, dalam mengangkat para pemimpin termasuk gubernur, kapabilitas dan ketakwaan lah yang menjadi indikator utamanya. Karena tanpa memiliki kapabilitas bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan amanahnya sebagai pemimpin, yang harus mengurusi semua urusan rakyatnya.
Seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar karena ia menyadari bahwa beban yang dipikulnya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Sebagaimana hadits yang disabdakan Rasulullah SAW.
“Imam adalah ra’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya” (HR. Al Bukhari).
Begitu juga dengan ketakwaan, jika ketakwaan tidak dimiliki oleh seorang pemimpin, maka pasti ia akan melakukan kemaksiatan atau penyelewengan. Karena sejatinya ketakwaan adalah kendali bagi seseorang untuk tidak melakukan kemaksiatan. Senantiasa merasa diawasi karena keyakinannya terhadap Al Khaliq, sehingga bisa terhindar dari penyelewengan.
Kepemimpinan semacam ini pernah diukir dalam sejarah para Kholifah terdahulu di masa kejayaan Islam. Salah satunya adalah Khalifah Umar bin Khattab semasa hidupnya dikenal sebagai pemimpin yang adil. Selama kepemimpinannya, beliau selalu memastikan bahwa hukum selalu ditegakkan dengan adil bagi semua orang. Tanpa memandang jabatan, status, dan juga kekayaan. Bahkan Umar bin Khatab ketika menjabat sebagai khalifah berkata, “demi Allah jika ada seekor keledai jatuh terperosok dari negeri Irak aku khawatir keledai itu akan menuntut hisab aku di hari kiamat”, waktu itu Umar bin Khatab tinggal di Madinah, sedang lubangnya di Irak. Begitu kehati-hatiannya para Khalifah terdahulu dalam menerima jabatan, sebab mereka paham bahwa hisabnya berat. Semoga para pemimpin kita ke depannya bisa meneladani mereka, namun tentunya hal itu akan terwujud hanya dalam bingkai Daulah Khilafah yang akan menerapkan seluruh aturan – aturan Allah, sehingga mampu menjaga dan mengurusi rakyat dengan adil. Wallahu a’lam bishawab
from Suara Inqilabi https://ift.tt/eNMB5Sn
October 05, 2024 at 06:58PM
Belum ada Komentar untuk "Pilgub 2024 : Cukupkah Dengan Popularitas?"
Posting Komentar