Mengurai Masalah: Butuh Sistem Sahih dan Pemimpin Amanah

Mengurai Masalah: Butuh Sistem Sahih dan Pemimpin Amanah
Oleh Ai Siti Nuraeni
(Pegiat literasi)
Tahun 2025, Pemdaprov Jabar akan menyediakan insentif tambahan sebesar Rp20-50 juta untuk camat yang dinilai berhasil mengakselerasi indeks makro provinsi. Indikator tersebut mencakup penanggulangan kemiskinan, stunting, pengangguran, penciptaan lapangan kerja, serta menstimulus laju pertumbuhan ekonomi. Adapun dananya berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang berasal dari provinsi lalu dikelola Bapenda Jabar.(Beritainspiratif.com,10/10/2024)
Program insentif tersebut merupakan direktif dari Gubernur Jawa Barat agar camat bisa mengabdi secara lebih pada kecamatannya masing-masing demi kemajuan Jabar. Hal itu disampaikan oleh Sekda (Sekretaris Daerah) saat memimpin rakor di depan 209 camat yang hadir. Karena untuk memajukan provinsi harus mulai dari lapangan terlebih dahulu dengan memastikan desa dan kelurahan yang hebat melalui kinerja camat.
Camat sejatinya adalah orang yang bertanggung jawab atas kesejahteraan warga di sebuah wilayah kecamatan. Sebelum menjabat, ia tentu mengetahui bahwa memimpin itu bukan tugas mudah sehingga perlu membekali diri dengan berbagai program dan ide cemerlang. Apalagi masalah yang dialami oleh rakyat begitu banyak, bukan hanya masalah ekonomi.
Permasalahan lapangan kerja, pengangguran, juga kemiskinan bukanlah masalah sederhana. Tidak mungkin selesai hanya dengan memotivasi para camat. Selain itu insentif menjadi sorotan masyarakat. Camat yang sudah diberikan gaji dan tunjangan yang layak untuk kebutuhannya dan keluarga agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik, tapi masih juga perlu dimotivasi dengan dana insentif agar kinerjanya bagus. Apalagi dana tersebut tetap bertumpu kepada rakyat karena berasal dari PKB dan BBNKB yang berasal dari semua kalangan termasuk orang miskin.
Selanjutnya, masalah penanggulangan kemiskinan, stunting, pengangguran, penciptaan lapangan kerja, serta memperbaiki pertumbuhan ekonomi tidak akan pernah selesai hanya dengan mengandalkan kinerja bagus dari camat saja. Karena camat hanyalah pelaksana dari kebijakan yang sudah diputuskan oleh pusat.
Untuk mengatasi masalah ekonomi dibutuhkan dua unsur pokok yaitu penguasa atau pemimpin yang amanah dan sistem sahih. Jika sistemnya tidak sahih maka sebagus apapun penguasanya tidak akan mampu mengurai masalah.
Sistem yang tidak sahih itu adalah kapitalisme. Ideologi ini mengizinkan swasta dan asing mengelola kekayaan alam dalam negeri. Sehingga harta hanya berputar pada orang-orang tertentu saja. Selain itu kapitalisme meniscayakan pemasukan negara dari pajak yang terus membebani. Keberhasilan diukur hanya dari materi. Pembangunan masif tapi rakyatnya masih banyak yang kelaparan, tidak punya tempat tinggal, susah mengakses pendidikan. Utang kian menggunung sehingga dana untuk mengurusi rakyat pastilah minim. Namun ironis korupsi, gratifikasi, semakin mengherankan.
Sangat berbeda dengan sistem Islam. Negara wajib mengelola secara mandiri kekayaan alam yang nantinya buat kemaslahatan rakyat. Sehingga negara mampu membuka lapangan kerja. Selanjutnya rakyat bisa mendapatkan penghasilan yang cukup agar bisa memberikan nutrisi terbaik untuk keluarganya. Maka masalah stunting pun dengan bertahap bisa terselesaikan dan perekonomian semakin membaik.
Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap dan mampu menyelesaikan permasalahan manusia dalam berbagai aspek termasuk ekonomi. Pernyataan itu bukan hanya teori tapi benar-benar fakta yang terjadi di masa lalu yang bahkan bisa bertahan selama lebih dari 13 abad.
Potret keberhasilan Islam dalam menyejahterakan masyarakat telah terjadi dari masa ke masa. Salah satunya pada masa Umar bin Abdul Aziz, cucu dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Pada masa kepemimpinannya rakyat begitu sejahtera, kebutuhan dasarnya telah tercukupi, para pemuda lajang dibiayai untuk menggelar pernikahan bahkan tidak ada satu orang pun yang mau menerima zakat karena masyarakat telah merasa cukup. Gambaran yang luar biasa, tidak bisa diwujudkan dalam sistem saat ini.
Islam juga menggambarkan bagaimana rasa tanggung jawab yang besar atas amanah kepemimpinan telah membuat Umar bin Khaththab merasa kaget dan takut ketika mengetahui ada seorang ibu yang memasak batu hanya untuk menenangkan anak-anak yang sedang lapar. Beliau seketika pergi ke baitulmal, memanggul sendiri bahan makanan dari sana, mengantarnya lalu memasakkan bahan makanan tersebut agar keluarga tersebut bisa makan.
Beliau juga tidak lupa untuk membangun infrastruktur dengan sebaik mungkin agar tidak ada yang celaka walau seekor keledai sekalipun. Semua upaya yang maksimal tersebut dilakukan hanya karena atas dorongan keimanan dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Rasulullah Saw. bersabda:
“Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.”(H.R Bukhari)
Selanjutnya, pengelolaan kekayaan alam secara mandiri membuat Islam mampu mengentaskan kekemiskinan. Syariat telah menetapkan bahwa sumber daya alam yang ada itu milik masyarakat umum. Negara wajib untuk mengelolanya, mempekerjakan rakyat sendiri di dalamnya, dan mempergunakan hasilnya untuk kebutuhan rakyat.
Dengan demikian, negara memiliki dana yang cukup untuk memberikan kebutuhan asasi masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan gratis. Mekanisme seperti ini juga bisa membuat para ayah mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu untuk membiayai kebutuhan keluarganya berupa sandang, pangan, dan tempat tinggal yang layak.
Islam pun tidak akan memberlakukan pajak sebagai sumber penghasilan negaranya, kecuali di saat kas negara benar-benar kosong. Adapun pemberlakuannya tidak untuk semua kalangan, melainkan hanya menyasar kepada muslim yang kaya saja. Sehingga rakyat miskin tidak akan merasa terbebani.
Inilah yang dimaksud Allah Swt. bahwa dengan penerapan Islam secara menyeluruh, manusia akan mampu merasakan kesejahteraan secara merata. Bahkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun Ghafur bisa dirasakan.
Wallahualam bishowab.
from Suara Inqilabi https://ift.tt/VeayCQ4
October 28, 2024 at 08:00PM
Belum ada Komentar untuk "Mengurai Masalah: Butuh Sistem Sahih dan Pemimpin Amanah "
Posting Komentar