Kemiskinan Di Dunia, Kapitalisme Biangnya


Kemiskinan Di Dunia, Kapitalisme Biangnya

Oleh : Nining Ummu Hanif

Kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Mirisnya label miskin seolah menjadi hal yang lumrah di negri ini, sebut saja gas bersubsidi yang bertuliskan hanya untuk rakyat miskin, raskin (beras untuk rakyat miskin)dan bidikmisi (biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi).Sementara berdasarkan laporan Program Pembangunan PBB,lebih dari satu miliar orang hidup dalam kemiskinan akut di seluruh dunia. Setengah dari jumlah tersebut adalah anak-anak. India merupakan negara dengan jumlah penduduk paling banyak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem ,diikuti oleh Pakistan, Etiopia, Nigeria, dan Republik Demokratik Kongo. (BeritaSatu,17/10/24)

 

Meskipun sudah dicanangkan tanggal 17 Oktober sebagai peringatan Hari Kemiskinan Internasional, dan berbagai upaya sudah dilakukan oleh organisasi- organisasi Internasional seperti aksi solidaritas lokal dan global, bantuan internasinal untuk komunitas lokal, inovasi tehnologi dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan yang inklusif, kebijakan sosial yang adil. Namun semua upaya itupun gagal mewujudkan kesejahteraan. (MediaIndonesia, 17/10/24)

 

Disamping itu ada beberapa anggapan yang keliru tentang solusi menuntaskan kemiskinan. Seperti yang disampaikan oleh wakil ketua Bidang Hubungan Internasional Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Farahdibha Tenrilemba pada pertemuan W20 yang digelar di Rio de Janeiro, Brazil menekankan pentingnya peran perempuan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Menurutnya program-program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan berhasil berkat sinergi baik antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk perempuan sebagai motor penggerak ekonomi keluarga.(MediaIndonesia,3/10/24). Hal senada juga disampaikan oleh Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Lenny N. Rosalin dalam agenda Commision on the Status of Women (CSW) ke-68, di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara, apabila mereka diberdayakan. Dampak positifnya tidak hanya akan dirasakan oleh diri perempuan secara individu, tetapi juga keluarga, komunitas, hingga negara. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dalam dua dekade terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,8 persen(Antara, 17/3/24)

 

Selain pemberdayaan perempuan, ternyata ada anggapan salah lainnya untuk solusi kemiskinan. Sebuah studi yang terbit di International Journal of Educational Research Volume 128, 2024, menemukan bahwa lulusan yang kembali ke negaranya setelah belajar di luar negeri berdampak terhadap pengurangan kemiskinan. Karena pengalaman dan keterampilan yang diperoleh dari luar negeri dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan negara asal mereka.(detik.com,19/10/24)

 

Kemiskinan saat ini ada dimana- mana dan kesenjangan antara miskin dan kaya semakin lebar. Sebenarnya yang menjadi biang dari masalah kemiskinan di dunia adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem rusak yang hanya mementingkan para kapital/ pemilik modal dan sebaliknya menelantarkan rakyatnya, bahkan rakyat dibiarkan berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa hadirnya negara untuk mengurusi rakyat. Kesenjangan ekonomi menjadikan kekayaan berputar pada segelintir orang saja. Yaitu para pengusaha kapitalis yang menguasai kekayaan alam berkat regulasi dan fasilitas yang diberikan oleh para penguasa sebagai balas budi atas dukungan para pengusaha pada pemilihan mereka. Hal ini yang membuat oligarki makin kaya dan rakyat makin menderita.

 

Dalam ekonomi kapitalis, kesejahteraan didefinisikan sebagai kondisi di mana individu memiliki kebebasan untuk mengejar kepentingan pribadi mereka dan memperoleh keuntungan dari aktivitas ekonomi. Kesejahteraan diukur secara kolektif dengan pendapatan perkapita, ini adalah standar

yang semu dan tidak menggambarkan kesejahteraan secara nyata.

Dengan demikian upaya apapun untuk mengatasi kemiskinan selama masih berkutat dalam sistem kapitalis akan sia-sia belaka dan mustahil melahirkan kesejahteraan. Karena sistem kapitalis yang menjadi akar masalahnya.

 

Berbeda apabila negara menerapkan sistem Islam. Sistem yang aturannya berasal dari Allah Swt yang memberi solusi atas

problematika manusia termasuk kemiskinan. Penerapan sistem Islam secara kaffah akan menjamin kesejahteraan rakyat. Kepala negara dalam Islam adalah raa’in yang memenuhi kebutuhan rakyat.Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa bumi langit dan seisinya dengan berbagai fasilitasnya merupakan rezeki yang sangat melimpah sehingga dapat mensejahterakan umat manusia. Namun rezeki tidak akan datang tanpa adanya ikhtiar, kerja keras, dan usaha. Islam qmenganjurkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

Islam juga mempunyai aturan sebagai dasar- dasar untuk kemiskinan yang ada dalam Al Qur’an yaitu Islam menegaskan bahwa disetiap harta yang dimiliki ada bagian dhuafa yang harus ditunaikan pada mereka. Dan orang- orang yang meyakini hal tersebut termasuk kedalam golongan orang- orang yang bertaqwa. Islam mengatasi kemiskinan melalui kemaslahatan zakat dan menghindari praktek ribawi. Sesungguhnya, praktik ribawi menghancurkan harta. Sebaliknya, zakat membuat harta menjadi berkah.

Sebagaimana Firman dalam QS at-Taubah/9:60 a: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha mengetahui, Maha bijaksana.”

Wallahu’alam bish-shawwab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/vHiOY0J
October 27, 2024 at 09:06AM

Belum ada Komentar untuk "Kemiskinan Di Dunia, Kapitalisme Biangnya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel