Memutus Mata Rantai Kepercayaan Pemuda Terhadap Bobroknya Demokrasi, Bisakah?


Memutus Mata Rantai Kepercayaan Pemuda Terhadap Bobroknya Demokrasi, Bisakah?

Mirna Juwita 

(Aktivis Dakwah, Pendidik)

 

Membahas politik sangatlah menarik bagi sebagian orang. Namun, tidak dengan sebagian orang yang lain. Diantara mereka tidak tertarik membahas politik apalagi terlibat didalamnya. Tidak sedikit yang mengira terlibat dalam politik itu di anggap berbahaya. Dimana pamahaman umat saat ini sudah berbelok dari hakikat aslinya termasuk Gen Z terhadap politik.

Mereka memandang politik itu merupakan alat kotor untuk meraih tujuan tertentu. Seperti merebut kursi kekuasaan, kecurangan, korupsi, gimik, dan rumit bagi mereka untuk memikirkan.

 

Hingga pandangan ini membuat mereka cenderung sangat anti membahas politik. Walaupun demikian sebagian kecil dari mereka ada juga yang tertarik membahas politik seperti Aktivis Mahasiswa. (muslimahnews.net , 6/2/2024)

 

Akan tetapi sebagian lain yang tidak tertarik. Seperti kalangan santri dan pesantren tidak terlalu tertarik membahas politik. Namum mereka lebih dominan seputar fiqih fardhiyah, kajian tasawuf (tentang pembersihan jiwa, sifat tercela, ujub, ria dan lain sebagainya). Namun kajian politik yang ada dalam kitab turots sangat jarang di bahas dan di ajarkan di pesantren seperti kitab-kitab Ahkamu al-Sulthaniyah karya imam Mawardi, kitab Siyasah Syar’iyyah karya Syaikhul islam Imam Ibnu Taimiyah, dsn kitab At-Thuruq Al-Hukmiyyah karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.

(hukumpolitiksyariah.com , 26/9/2019)

 

Selanjutnya, terkait politik ada pandangan bahwa di Indonesia ada fenomena kemunduran demokrasi (Democratic Backsliding). Oleh karena itu ada harapan yang muncul agar kaum pemuda khususnya mahasiswa bisa menjadi agen perubahan demokrasi itu sendiri. Hal ini dapat terwujud dengan adanya reformasi ditubuh partai politik dengan adanya perubahan pola rekrutmen, kaderisasi dan distribusi kader.

 

Pandangan ini sungguh sangat menyesatkan karena realitanya Politik demokrasi tidaklah berkorelasi dengan perbaikan dan perubahan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, relalitas membentuk para pemuda menjadi malas berpolitik dalam bingkai demokrasi meskipun mereka tidak memahami kesalahan demokrasi secara konseptual. Pemikiran pragmatisme jugalah yang membetuk generasi muda menjauh dari politik demokrasi dan enggan malas di ajak berpikir.

(wacanaedukasi.opini, 30/9/2024)

 

Ketika politik demokrasi itu menampakkan berbagai kebobrokan dan kerusakan yang diindera pemuda sejatinya itu merupakan kemunduran demokrasi. Lebih tepat disebut demokrasi sebagai sebuah sistem yang merusak, sehingga demokrasi memang layak ditinggalkan oleh umat dan para pemuda.

 

Para pemuda (Gen Z dan Millenial) harus berpartisipasi dalam perubahan politik Indonesia. Dan untuk itu pemuda membutuhkan peran parpol (partai politik) untuk membimbing mereka memahami bagaimana politik yang sesungguhnya, bagaimana politik yang benar dan melakukan perubahan politik. Itu dengan memahami politik Islam dan perubahan politik menuju sistem Islam, bukan mempertahankan demokrasi yang terbukti problematik.

 

Jadi, dimana Islam konsep politik sendiri yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunah tidak seperti konsep politik demokrasi yang digaungkan.

 

Dimana didalam Islam, politik atau siyasah, disebutkan dalam kamus Muhits berasal dari kata “sasa-yasusu-siyasatan yang berarti mengatur, memelihara dan mengurusi. Sedangkan dalam kamus (kitab), politik di definisikan dengan “pemeliharaan atas urusan umat atau mengurusi urusan umat. Baik dalam maupun di luar negeri sesuai dengan syariat Islam.

Sebagaimana Islam agama yang sempurna yang mengatur setiap aspek termasuk ranah politik.

Oleh karena itu, pemuda harusnya melek dan paham akan politik yang diajarkan oleh Islam. Sehingga tidak lagi apolitis (tidak peduli atau masa bodoh dengan politik). Karena saat ini memang benar-benar kita di serang dari segi politik. Ketika umat Islam tidak memahami politik yang shohih. Maka sangat mudah bagi Barat untuk membodoh-bodohi Umat muslim.

 

Dan oleh sebab itu pula sudah semestinya pemuda harus bergabung dengan parpol sahih untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dan negara. Dalam mewujudkan tata dunia baru yang berbeda dengan metode politik demokrasi yang jelas telah gagal dalam perubahan. Hanya Islam yang mampu untuk mengubah semuanya dengan lebih baik. Mengubah sistem yang bobrok menjadi sistem Islam yang Kaffah.

Beberapa kriteria parpol sahih harus dipahami pemuda:

1. Memiliki ideologi sahih (Islam) sekaligus menjadi ikatan yang menghimpun para anggotanya; dimana konseptual politik yang dipilih untuk menjalankan perubahan (mengadopsi fikrah politik tertentu); memiliki metode langkah perubahan yang relevan dengan problem sistem (metode perubahan yang teruji); memiliki para anggota yang memiliki kesadaran yang benar (bukan sekedar karena ketokohan, kepakaran, jabatan).

 

2. Parpol yang tidak menjauhkan atau melupakan dari hakikat seorang hamba.

 

Kemudian, pentingnya membangun narasi kepada pemuda, untuk menghentikan kepercayaan terhadap partai-partai sekuler-liberal apapun yang berbasis massa. Hanya menunggulakan ekstensi nama semata.

 

Dengan adanya pertanggung jawaban dalam mengadakan Pendidikan politik seperti ini untuk menjaga pemikiran umat. Namun, untuk pelaksanaan pemahaman politik dan parpor yang shohih ini merupakan tanggungjawab negara.

Dimana, potret Khilafah yang telah melakukan Pendidikan politik Islam kepada para pemuda/Gen Z, karena politik dalam Islam adalah satu kebutuhan dan umat Islam termasuk Gen Z wajib berpolitik sesuai dengan tuntunan Islam.

Wallahu a’lam bish-shawwab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/3n6FGb7
October 05, 2024 at 06:22PM

Belum ada Komentar untuk "Memutus Mata Rantai Kepercayaan Pemuda Terhadap Bobroknya Demokrasi, Bisakah?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel