Gaza Mencekam, Dunia Islam Makin Diam


Gaza Mencekam, Dunia Islam Makin Diam

Ummu Fath

 Aktivis Dakwah

 

Zona aman di wilayah Gaza semaikn berkurang. Hal ini dikarenakan adanya serangan militer Israel yang terus berlanjut. Zona kemanusiaan aman yang berada di Gaza selatan awalnya meliputi 30 km2 atau 63 % dari total wilayah Gaza menyusut hingga tinggal 35 km2 atau 9,5 % dari total wilayah Gaza. Wilayah ini mencakup beberapa lahan pertanian, serta bangunan ekonomi, komersial dan jasa. Dimana wilayah tersebut meliputi jalanan biasa, jalan raya, area layanan, dan bahkan pemakaman, yang tidak satu pun dapat dianggap sebagai tempat berlindung yang benar-benar aman bagi warga sipil yang mengungsi.

Berkurangnya zona aman yang terus berlangsung itu memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, karena warga sipil memiliki tempat yang lebih kecil untuk melarikan diri dari aksi kekerasan. Selain mempersempit wilayah aman bagi warga sipil. Israel terus melakukan blokade yang menyebabkan kelangkaan akut pada bahan makanan, air bersih dan obat, dan menyebabkan kehancuran pada sebagian besar wilayah tersebut.

 

Dunia Islam Hanya Mengecam

 

Kebiadaban yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza mengundang simpati besar kaum muslimin di seluruh dunia. Mereka mendukung rakyat Palestina untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Sayangnya apa yang mereka lakukan tidak disambut baik dengan dukungan kebijakan penguasanya. Penguasa mereka lebih memilih bungkam atau cukup berkoar – koar di media. Hal ini dilakukan karena ingin menghindari konfortasi dengan negara adidaya AS yang merupakan sekutu abadi Israel.

Sementara itu, sikap abai dunia Islam terhadap Gaza kian membuat miris. Arab Saudi yang notabene merupakan negara tetanggan Palestina justru menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan saat ini Arab Saudi justru sedang mempersiapkan kemegahan Piala Dunia tanpa sedikit pun peduli dengan tumpahnya darah saudara sesama muslim di Gaza. Hal yang sama dilakukan oleh Mesir. Negara tetangga langsung Gaza ini juga menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Ketika konflik terjadi Mesir enggan membuka pintu perbatasannya, apalagi memberikan bantuan logistik. Sedangkan nun jauh di sana, ada Turki yang hanya bisa mengecam hingga berbusa-busa.

Sikap abai yang dilakukan oleh negeri muslim adalah akibat adanya sentimen kebangsaan. Ikatan akidah dan ukhuah islamiah mestinya menjadi pendorong terkuat para penguasa muslim mengirim tantara militer untuk menolong saudaranya di Palestina. Nation-state telah mengikis ikatan akidah Islam antarkaum muslim, padahal umat Islam bagaikan satu tubuh yang jika sebagian tubuhnya sakit, bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakit.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam sabdanya, “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah ia menganiaya saudaranya itu, jangan pula menyerahkannya – kepada musuh. Barang siapa memberikan pertolongan pada hajat saudaranya, Allah selalu memberikan pertolongan pada hajat orang itu. Dan barang siapa melapangkan kepada seseorang muslim akan satu kesusahannya, Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi cela seseorang muslim, Allah akan menutupi celanya pada hari kiamat.” (Muttafaq‘alaih).

Para penguasa negri muslim semestinya punya kemampuan lebih dari sekadar mengecam dan mengutuk kebrutalan Israel. Pengiriman militer adalah langkah strategis yang harus dilakukan. Selain itu para penguasa muslim juga bisa mengakomordir untuk mengeluarkan kebijakan boikot produk – produk Israel. Namun sekali lagi, ini pun tidak dilakukan. Kenyataan ini menunjukkan betapa bobroknya kepemimpinan para penguasa negri muslim saat ini

 

Tak Sekedar Isu Kemanusiaan

 

Bobroknya kepemimpinan para penguasa negri muslim adalah akibat tegaknya sistem kapitalis di negara mereka. Ditengah krisis Gaza para pemimpin muslim lebih sibuk dengan politik sekuler, bahkan lebih rela menjadi antek musuh Islam.

Krisis di Gaza bukanlah serangan biasa namun wujud perang ideologi. Pertarungan ideologi kufur kaptalisme dengan ideologi sahih islam terjadi disana. Bisa kita lihat dari para pembebeknya. Israel yang mendapat dukungan penuh dari AS merasa aman meski menjadi sasaran kecaman masyarakat internasioanl. Berikut negri muslim pengemban kapitalisme, mereka hanya menjadi pembebek setiap kebijakan kufur. Akhirnya mereka bergeming tanpa melalukan sesuatu yang semestinya dilakukan yakni pengiriman militer.

Ideologi Islam merupakan lawan sepadan bagi kapitalisme. Namun keberadaan ideologi ini masih diemban oleh individu, bukan negara. Israel sebagai negara kafir harbi fi’lan (negara kafir yang sedang memerangi umat Islam secara riil), harus dihadapi oleh lawan yang seimbang yakni negara pengemban ideologi Islam. Dan itu adalah Khilafah. Kaberadaan Khilafah adalah suatu yang harus diwujudkan untuk menyelesaikan krisis Gaza dan Palestina. Dalam menghadapi hagemoni Israel, Khilafah memiliki kebijakan politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Serangan Israel yang telah menumpahkan darah kaum muslim Palestina, khususnya di Gaza saat ini, membuatnya halal untuk diperangi.

 

Butuh Kesadaran yang Sama

 

Dengan politik luar negerinya, Khilafah akan berperan menjadi perisai bagi kaum muslim. Ini sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Tentu keberadaan khilafah harus disertai dengan kesadaran yang sama dari umat. Hal ini dikarenakan keberadaan khilafah bukan sesuaitu yang instan. Tegaknya membutuhkan keikhlasan, kesungguhan, dan air mata perjuangan.

Rasulullah pernah mencontohkan perjuanagn ini. Dimulai dari membina sahabat dengan memastikan kekuatan pola pikir (akliah) dan pola sikap (nafsiah) mereka sejak proses pembinaan (tatsqif) di Darul Arqam. Kemudian beliau mengajak penduduk Makkah dan seluruh bangsa Arab pada musim haji sehingga dakwahnya tersebar ke seluruh penjuru jazirah. Akhirnya melalui dakwah yang beliau lakukan terciptalah kebangkitan di seluruh bangsa Arab.

Gerakan dakwah politis beliau difokuskan pada aktivitas-aktivitas nyata di satu wilayah atau beberapa wilayah yang menjadi cikal bakal aktivitas dakwah. Kemudian dakwah bertolak menuju seluruh bagian dunia Islam lainnya dan setelah itu satu wilayah atau beberapa wilayah dijadikan titik sentral, yaitu tempat yang di dalamnya dapat didirikan Daulah Islam, saat itu adalah Madinah.

Hal ini menjadi pijakan bagi aktivis dakwah sekarang untuk melakukan serangkaian aktivitas dakwah yang beliau lakukan hingga berdirinya Daulah Islam di Madinah. Tentu ini bukan sembarang gerakan, melaikan gerakan yang bervisi besar untuk kebangkitan islan dengan thariqah dakwah khas yang benar-benar menjiolak Rasulullah. Gerakan ini bersifat politis yang akan menghujamkan pemikiran Islam pada kaum muslimin, hingga muncul kesadaran pada diri merekan bahwa merekan harus disatukan dalam naungan sistem Islam. Dan itu membutuhkan tegaknya Khilafah.

Wallahu’alam Bish-shawwab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/Kpc8Asr
September 02, 2024 at 01:24PM

Belum ada Komentar untuk "Gaza Mencekam, Dunia Islam Makin Diam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel