Benarkah Kita Sudah Mencintai Rasulullah saw?

Benarkah Kita Sudah Mencintai Rasulullah saw?
Oleh: Khodijah Ummu Hannan
Bulan Rabiul Awal merupakan bulan di mana Rasulullah Saw dilahirkan. Beliau lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Yakni saat terjadi serangan pasukan gajah yang dipimpin oleh raja Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, berkat kekuasaan Allah yang menurunkan pasukan burung Ababil membawa batu api sijil dari neraka, pasukan gajah berhasil dikalahkan. Itulah moment luar biasa yang menjadi tanda dari lahirnya sosok yang luar biasa pula.
Bagi umat Islam, Rasulullah saw. merupakan sosok yang sangat istimewa. Berkat beliau, umat manusia telah berhasil diselamatkan dari kehancuran dengan membawa risalah Islam dari Allah Swt. Beliau telah berhasil membimbing manusia keluar dari kejahiliahan menuju terangnya Islam.
Makna Sejati Cinta Kepada Nabi
Rasulullah adalah tokoh terkemuka yang diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan. Menurut kitab Min Muqawwimat an-Nafsiah al-Islamiyah, al-Azhari menyatakan bahwa “Makna Kasih Sayang seorang hamba kepada Allah dan RasulNya adalah patuh dan mengikuti segala perintah Allah dan RasulNya”. Al-Zujaz juga mengungkapkan bahwa “Cinta manusia kepada Allah dan RasulNya adalah dengan mematuhi keduanya serta merestui segala perintah Allah dan ajaran Rasulullah Saw”. Al-Baidhawi menegaskan bahwa cinta adalah keinginan untuk taat.
Kecintaan ini memiliki kepentingan yang besar karena kita memiliki kewajiban untuk mencintai Allah dan RasulNya, karena cinta kepada keduanya terkait dengan pengamalan syariat yang telah diwajibkan oleh keduanya. Ini berarti bahwa ketika seseorang menyatakan cinta tertingginya kepada Allah dan Rasul-Nya, ia wajib untuk mengekspresikan rasa cinta tersebut dengan meneladani perilaku beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Allah Swt berfirman; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagi kalian” (QS Al-Ahzab: 21).
Metode Mencintai Nabi
Di bulan Rabbiul Awal ini, beragam cara digelar untuk mengekspresikan cinta mereka kepada Rasul. Umat Muslim mengadakan berbagai kegiatan mulai dari membaca shalawat, perlombaan, hingga tablig akbar. Namun, apakah semua ini sudah mencerminkan kecintaan kita kepada Rasul atau hanya menjadi seremoni yang diulang setiap tahun?
Ungkapan cinta kepada Rasulullah yang dangkal jika hanya diungkapkan melalui ritual-ritual seperti memperingati hari kelahirannya. Cinta semacam itu tidak memiliki makna apapun jika ajaran yang beliau bawa diabaikan atau bahkan ditinggalkan dalam kehidupan nyata.
Kecintaan dan penghormatan kita kepada Rasulullah mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua aspek pribadi maupun sosial dengan tuntunan beliau. Meneladani Rasulullah dalam ibadah mahdhah diwujudkan dalam ketundukan dalam menjalankan ibadah seperti yang diajarkan oleh beliau. Rasulullah bersabda, “Shalatlah kalian seperti aku shalat“(HR. Bukhari).
Rasulullah adalah contoh yang mulia dan agung, yang layak untuk kita tiru. Siti Aisyah ra., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab; “Akhlak Rasulullah adalah al-Quran itu sendiri” (HR Muslim dan Abu Dawud).
Perlu diingat, terdapat perbedaan mendasar antara akhlak dan moral. Akhlak adalah terminologi Islam yang berlandaskan niat dari Allah dan Rasul-Nya serta bernilai pahala di sisi-Nya. Sebaliknya, moral bersifat umum, yang dorongannya kadang-kadang berasal dari humanisme dan belum tentu berakar dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Sikap moral belum tentu menjamin pahala dari Allah dan Rasul-Nya bagi pelakunya.
Pembuktian cinta kita kepada Rasul juga harus tercermin dalam gaya berbusana, asupan makanan, dan minuman kita. Allah dan Rasul telah mewajibkan umat Islam untuk berpakaian yang menjaga aurat. Bagi laki-laki, auratnya adalah dari pusar hingga lutut. Sedangkan bagi perempuan, seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Selain itu, Allah dan Rasulullah juga telah mengatur agar kita mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan berkualitas. Oleh karena itu, tunjukkan bukti cinta kita dengan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan.
Dalam bersosialisasi, kita harus meneladani Rasulullah Saw yang memiliki sifat peduli dan empati. Beliau selalu menunjukkan kebaikan kepada tetangga tanpa memandang status sosial, serta mampu bergaul dengan berbagai kalangan. Hal ini terlihat jelas dari kunjungan beliau kepada Ibn Anas bin Malik dan Qais bin Saad bin Ubadah, di mana beliau tidak hanya mengunjungi mereka tetapi juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Rasulullah juga menghadiri pernikahan Rubayyi binti Muawwidz, menunjukkan kesopanan dan kepedulian beliau dalam bergaul.
Selain itu, kita juga harus mencontoh Rasulullah dalam kepemimpinan. Rasulullah Saw diakui sebagai seorang pemimpin agung dan terbaik sepanjang sejarah manusia. Seorang peneliti dan profesor di Universitas Chicago Amerika, Jules Masserman, menetapkan tiga kriteria untuk menentukan pemimpin terbaik dunia, yaitu: pertama, pemimpin harus memiliki kepemimpinan yang terbentuk dengan baik. Kedua, pemimpin harus mampu memimpin masyarakat yang terdiri dari beragam keyakinan. Ketiga, pemimpin harus bisa menciptakan sistem masyarakat yang memberikan keamanan dan ketentraman bagi seluruh manusia yang tinggal di dalamnya. Beliau mengambil kesimpulan;
“Mungkin pemimpin terkemuka sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga kriteria tersebut” (Majalah Time. Who Were History’s Great Leaders, edisi 15 Juli 1974).
Keyakinan ini telah menjadi pangkal bagi umat Muslim, yang terbukti dalam beberapa dalil. Nabi saw pernah menyatakan “Ketika hari kiamat tiba, aku adalah pemimpin para nabi, juru bicara dari mereka (di hadapan Allah) dan pemberi syafaat mereka, tanpa rasa angkuh”(HR. Tirmidzi).
Hadits ini menggambarkan betapa tingginya kedudukan Rasulullah saw. sebagai pemimpin utama seluruh umat manusia, baik pada zamannya, masa lampau, maupun masa depan hingga akhir zaman.
Rasulullah juga bukan hanya sebagai pemimpin spiritual semata, tetapi juga sebagai pemimpin politik (sebagai pemimpin negara). Seperti yang dinyatakan oleh Allah Swt, “Kami tidak mengutusmu, Muhammad, kecuali untuk diikuti dengan seizin Allah”(QS. An-Nisa: 64).
Ayat di atas menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah Saw, tidak sebatas penyampai risalah. Melainkan juga sebagai pemimpin yang wajib untuk ditaati setiap perintah dan larangan-Nya.
Maka mari kita tunjukkan kecintaan kepada Rasulullah dengan menaati seluruh perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya. Dan untuk mewujudkan itu semua kaum Muslimin harus berislam secara paripurna.
Wallahu A’lam bish-Shawwab
from Suara Inqilabi https://ift.tt/pzneF92
September 22, 2024 at 07:29AM
Belum ada Komentar untuk "Benarkah Kita Sudah Mencintai Rasulullah saw?"
Posting Komentar