Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku


Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku

Oleh : Eva Sanjaya

 

Baru-baru ini jagad maya dihebohkan dengan rusaknya perilaku generasi hari ini. Peristiwa viral di masyarakat Banjarmasin dalam beberapa hari terakhir dengan kecubung maut yang menyebabkan 2 orang meninggal dunia. Kedua korban diketahui mengoplos kecubung dengan alkohol dan obat-obatan. Meskipun sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, nyawa keduanya tak tertolong. Peristiwa tersebut sedang viral di sosial media X, pengguna akun @Heraloebss mengunggah video yang menunjukkan banyak orang dalam kondisi tidak sadar diri dengan sepenuhnya alias mabok tergeletak dan muntah-muntah. Dalam potongan video tersebut, terlihat pula orang yang meracau, berbicara tidak jelas, membentak, serta tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Lalu, sebenarnya apa itu kecubung dan kenapa mematikan ?

 

Dilansir kompas.com/12-7-2024, kecubung merupakan tanaman yang biasanya tumbuh liar di ladang. Biasanya, tumbuhan ini juga ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman hias karena bunganya yang berbentuk unik seperti trompet. Buah dari tumbuhan ini juga unik berbentuk bulat dengan duri kecil. Namun, di balik bentuk bunganya yang indah dan buahnya yang unik, kecubung mengandung senyawa kimia yang beracun. Hampir semua bagian dari tumbuhan kecubung, mulai dari daun, bunga, buah, hingga biji, punya efek racun yang berbahaya jika dikonsumsi.

 

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati dihubungi di Jakarta, Jumat (12/7/2024), mengatakan, konsumsi kecubung bisa sangat berbahaya. Konsumsi tumbuhan ini dalam dosis kecil pun bisa menimbulkan efek yang serius.

 

Kecubung yang memiliki bahasa ilmiah Datura metel ini mengandung berbagai senyawa kimia beracun seperti alkaloid tropane, termasuk scopolamine, atropin, dan hiosiami. Senyawa tersebut memiliki efek berbahaya bagi tubuh. Efek yang paling banyak terjadi yakni munculnya halusinasi dan delirium. Halusinasi yang ditimbulkan dari konsumsi kecubung bisa terjadi secara intens, baik halusinasi dalam bentuk visual maupun auditori. Terkadang orang yang mengonsumsi kecubung juga mengalami gangguan mental menjadi seperti kebingungan dan tidak teratur. Efek lainnya, dapat menyebabkan gangguan sistem saraf. Senyawa dalam kecubung dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi (tidak paham lingkungan sekitar), agitasi (gelisah dan gugup), dan berperilaku agresif.

 

Melihat fenomena mabuk kecubung menunjukkan rusaknya generasi dalam menjalani kehidupan termasuk dalam menyelesaikan masalah. Bagaimana tidak, mereka ambil jalan pintas demi lepaskan beban sejenak dari pikiran selain itu juga makin membuat lemahnya ketahanan mental. Bila memang sedang terjerat masalah, harusnya dihadapi bukan malah dihindari bahkan melarikan diri. Ditambah lagi payung hukum yang tidak bisa menindak tegas pelaku yang membuat resah masyarakat dan akhirnya membuat mereka hanya menjadi “sampah masyarakat”.

 

Hal ini menggambarkan sistem saat ini telah mengalami kegagalan dalam mencetak generasi unggul, tangguh, berkualitas dan berakhlak mulia. Sekulerisme telah menggerogoti perilaku generasi muslim sehingga iman menjadi lemah. Kehidupan yang hanya mendewakan kebebasan sehingga manusia bebas melakukan apa saja tanpa ada batasan atau aturan. Maka, wajar yang terjadi bukan malah kebaikan dan manfaat justru kerusakan, kehinaan dan kebodohan. Sistem pendidikan sekuler hari ini justru mencetak generasi dengan perilaku liberal. Generasi yang jauh dari agama. Padahal sejatinya, pemuda adalah harapan bangsa di masa yang akan datang. Tonggak peradaban masa depan.

 

Oleh karena itu, sudah saatnya beralih pada perubahan hakiki. Perubahan yang bisa membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Sistem yang ada saat ini jelas tidak bisa diharapkan, baik detik ini maupun masa mendatang. Dengan ini, sungguh kita membutuhkan sistem baru yang mampu menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia hingga ke akar-akarnya.

 

Efek kecubung yang memabukkan beserta risiko bahaya dan aspek mudarat bagi penggunanya tidak perlu diragukan lagi. Pelaku mabuk kecubung sebagai pelarian dan pelampiasan dari permasalahan kehidupan jelas merupakan generasi rapuh. Ini karena pada titik terlemahnya, mereka malah tidak mengambil solusi hakiki semata dari Allah.

Islam turun di muka bumi ini sejatinya diperuntukkan untuk fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati.

 

Islam memiliki seperangkat aturan yang paripurna diantaranya Sistem Pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi berkepribadian Islam, bermental kuat dan produktif. Dalam hal ini, bekal keimanan harus dimiliki oleh seorang individu muslim. Dengan adanya pembinaan aqidah dan keimanan yang selanjutnya menumbuhkan keterikatan mereka terhadap syariat Allah swt. Keyakinan seorang muslim terhadap keberadaan Allah serta kesadaran dirinya sebagai makhluk-Nya akan menguatkan hubungannya dengan Sang Khalik. Inilah yang akan membuahkan takwa dan rasa takut untuk melanggar aturan-Nya. Selain itu, keimanan yang dimiliki juga akan menuntun penggunaan berbagai bahan alami secara bijak sesuai tuntunan syariat.

Wallahu a’lam bish-shawwab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/F9nIoSQ
July 27, 2024 at 05:28AM

Belum ada Komentar untuk "Pemuda Mabuk Kecubung, Buah Liberalisasi Perilaku"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel