Proyek Sawah China Akankah Menjadi Solusi?


Proyek Sawah China Akankah Menjadi Solusi?

Shevina Azzahro

Kontributor Suara Inqilabi

 

Keresahan pemerintah terkait Indonesia yang tak kunjung mencapai swasembada beras, apa lagi terus impor sampai 2 juta ton per tahunnya. Hal ini yang membuat Indonesia bekerja sama dengan China untuk mengembangkan sawah di Kalimantan Tengah. Tapi apakah kerjasama ini menjadi solusi yang efektif?

Dikutip dari akun Instagram @luhut.pandjaitan, ia menyampaikan “Kita minta mereka (China) memberikan teknologi padi mereka, di mana mereka sudah sangat sukses menjadi swasembada, dan mereka bersedia”.

Mungkin dengan adanya kerjasama ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan beras yang terus menerus impor. Tapi ini bukan menjadi solusi yang efektif bahkan keberhasilan dan dampak negatif harus di tinjau lebih dalam lagi.

Harus mempertimbangkan dari segi alat, benih, geografis, musim. Apalagi musim di Indonesia berbeda dengan China yang memiliki 4 musim, tentu saja perbedaan iklim ini akan mempengaruhi cara budidaya dan karakter tanah. Jika proyek ini gagal, tentunya banyak sekali kerugian yang didapatkan.

Dilansir dari Riaupagi.com Dosen Fakultas Pertanian IPB yaitu Dwi Andreas Santosa, ada 4 pilar yaitu satu, kecocokan tanah dan iklim dengan benda yang ditanam. Dua, Infrastruktur pertanian, termasuk perairan. Tiga, Budi daya dan teknologi. Empat, pilar sosial dan ekonomi. Menyangkut tenaga kerja dan keuntungan badan usaha.Jika empat pilar ini belum terpenuhi atau belum pasti, maka kemungkinan besar akan gagal dalam proyek ini.

Apa lagi belum mengetahui siapa yang akan mengerjakan proyek sawah China ini, apakah masyarakat Indonesia atau lebih banyak dari China?. Dengan proyek ini China akan lebih besar mendominasi di Indonesia.

Masalah Indonesia sampai sekarang belum menjadi swasembada beras bukan hanya karena banyaknya jumlah penduduk tapi banyak faktor yang lebih besar dampaknya.

Dilansir dari cnnindonesia.com menyatakan bahwa peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Muhammed Andri Perdana menyatakan ia yakin produk beras Indonesia seharusnya masih dalam fase surplus.

peneliti Center of Economic and Law Studies (Core) Eliza Mardian turut berpendapat soal harga beras di pihak petani. Jika harga beras bagi petani menguntungkan tentu saja banyak yang termotivasi.

Eliza juga mengatakan bahwa Indonesia mampu lepas dari Impor beras jika pemerintah mau sepenuhnya mendukung petani lokal. Produktivitas padi dalam negeri belum optimal, jika dioptimalkan tentu saja bisa memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Dari sini seharusnya Indonesia bisa menjadi swasembada beras dengan adanya campur tangan Pemerintah yang memberikan dukungan besar pada petani sehingga bisa mengatasi masalah impor beras. Bukan makin terikat dengan kerjasama China sehingga China akan makin mendominasi. Apa lagi keuntungan yang di raih akan sangat besar di raih China, jika rugi maka Indonesia yang akan besar mendapatkan kerugian yang besar.

Dalam perspektif Islam, tentu saja masalah pangan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Bagaimana negara Islam akan memenuhi setiap kebutuhan masyarakat. Bekerja sama dengan asing bukan menjadi solusi utama tapi Negara Islam akan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri termasuk produktivitas pertanian dalam negeri sehingga bisa mengatasi masalah pangan. Dengan ini kita perlu tahu pentingnya sistem yang di ambil untuk memimpin sebuah Negara, bukan sistem dari manusia tapi sistem dari Allah yaitu Sistem Khilafah Islam yang akan melaksanakan aturan Islam di tengah kehidupan secara keseluruhan.

Wallahua’lam bish-shawwab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/imOQ98y
May 20, 2024 at 06:23AM

Belum ada Komentar untuk "Proyek Sawah China Akankah Menjadi Solusi?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel