Proyek Sawah Cina, solusi ketahanan pangan Indonesia?


Proyek Sawah Cina, Solusi Ketahanan Pangan Indonesia?

Nadila. A., S. P

Kontributor Suara Inqilabi 

Pemerintah Indonesia mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan China untuk bekerja sama mengembangkan lahan sawah seluas satu juta hektare di Kalimantan Tengah. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam ajang High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (19/4). voaindonesia.com, 27/04/24

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun mengunggah status pada laman instagramnya, mengatakan diunggahan keduanya bahwa China bersedia “memberikan teknologi padi” yang membuat mereka sukses mencapai swasembada beras untuk diterapkan di lahan seluas satu juta hektare di Kalimantan Tengah. bbc.com, 26/04/24

Rencana proyek Sawah Cina diadakan sebagai solusi menyediakan lumbung pangan (food estate). Ini disebut akan mampu mengatasi masalah beras nasional, apalagi mengingat Indonesia kerap bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Benarkah?

*Konsep Food Estate Pasti Gagal*
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengkritik wacana penggunaan lahan sebanyak 1 juta hektare di Kalimantan Tengah untuk penerapan adaptasi sawah padi dari China.

“Tidak masuk akal dan pasti gagal. Gitu aja lah kalau bicara 1 juta hektar pasti gagal. Terlalu luas terus nanti yang garap siapa,” kata Andreas dihubungi Tempo pada Selasa, 23 April 2024 melalui saluran telepon. bisnis.tempo.co, 23/04/24

Tentu keseriusan perlu dipertanyakan. Pasalnya, berbagai problem telah dicanangkan dari satu masa pemerintahan ke masa pemerintahan yang lain namun nihil, tidak satupun menuai keberhasilan bahkan beberapa pakar menilai tidak realistis dan hanya akan mengulang kegagalan sebagaimana yang terus terjadi selama tiga dekade terakhir sejak era Presiden Soeharto.

*Keseriusan Pemerintah dipertanyakan*
Tentunya, keseriusan pemerintah dalam mewujudkan lumbung pangan perlu dipertanyakan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mitigasi kegagalan membangun lumbung pangan justru tidak dilakukan? Mengapa pemerintah tidak memberikan solusi untuk petani lokal?

Akibatnya, banyak petani yang mengalami kegagalan dan lebih memilih untuk meninggalkan lahannya atau dijual. Alhasil petani makin malas melakukan aktivitas pertanian, bahkan memilih pensiun sebagai petani.

*Islam Sebagai Solusi*
Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna tentunya akan menyelesaikan persoalan pangan dari hulu hingga hilir. Tentu, tidak sekedar mewujudkan ketahanan pangan saja, namun juga kedaulatan pangan. Negara bertanggung jawab penuh dalam membantu petani, lebih dari itu akan me-riayah (mengurusi) pangan mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga sampai ke tangan konsumen terakhir, yaitu rakyat.

Tentunya, negara tidak boleh menyerahkan urusan pangan pada swasta. Terlebih melakukan kerjasama yang hanya akan membahayakan rakyat dan menunjukkan wajah asli kelepastanganan pemerintah pada peran utama sebagai pengurus urusan rakyatnya. Ini sebab, kerjasama yang dibangun bukan berdasarkan pelayanan atau pengurusan rakyat, melainkan untuk urusan bisnis yang hanya menguntungkan bagi segilintir orang, bukan rakyat secara keseluruhan.

Keberadaan negara yang menerapkan Islam ditengah-tengah rakyat sangatlah didambakan. Bagaimana tidak? Sistem kapitalisme yang ditetapkan saat ini hanya akan memberikan kesengsaraan pada rakyat. Membuat kebijakan demi kebijakan hanya berorientasi pada materi dan keuntungan bukan kepentingan rakyat. Ia hanya akan melanggengkan penjajahan atas rakyat. Maka jangan heran bila disistem kapitalisme negara hanya hadir sebagai regulator, pengatur. Bukan sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Sungguh berbeda jauh dengan Islam.

IsIam mewajibkan negara untuk bertanggung jawab penuh menjamin kebutuhan setiap individu. Bahkan jika akan menjalin Kerjasama dengan asing politik luar negeri, negara tidak akan tergantung pada modal swasta ataupun asing. Islam memandang tiap amanah adalah tanggung jawab yang besar kelak dihadapan Allah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits :

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari)

Wallahu a’lam bish-shawab*Proyek Sawah Cina, solusi ketahanan pangan Indonesia?*

Oleh : Nadila. A., S. P

 

Pemerintah Indonesia mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan China untuk bekerja sama mengembangkan lahan sawah seluas satu juta hektare di Kalimantan Tengah. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam ajang High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (19/4). voaindonesia.com, 27/04/24

 

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun mengunggah status pada laman instagramnya, mengatakan diunggahan keduanya bahwa China bersedia “memberikan teknologi padi” yang membuat mereka sukses mencapai swasembada beras untuk diterapkan di lahan seluas satu juta hektare di Kalimantan Tengah. bbc.com, 26/04/24

 

Rencana proyek Sawah Cina diadakan sebagai solusi menyediakan lumbung pangan (food estate). Ini disebut akan mampu mengatasi masalah beras nasional, apalagi mengingat Indonesia kerap bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Benarkah?

 

*Konsep Food Estate Pasti Gagal*

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengkritik wacana penggunaan lahan sebanyak 1 juta hektare di Kalimantan Tengah untuk penerapan adaptasi sawah padi dari China.

 

“Tidak masuk akal dan pasti gagal. Gitu aja lah kalau bicara 1 juta hektar pasti gagal. Terlalu luas terus nanti yang garap siapa,” kata Andreas dihubungi Tempo pada Selasa, 23 April 2024 melalui saluran telepon. bisnis.tempo.co, 23/04/24

 

Tentu keseriusan perlu dipertanyakan. Pasalnya, berbagai problem telah dicanangkan dari satu masa pemerintahan ke masa pemerintahan yang lain namun nihil, tidak satupun menuai keberhasilan bahkan beberapa pakar menilai tidak realistis dan hanya akan mengulang kegagalan sebagaimana yang terus terjadi selama tiga dekade terakhir sejak era Presiden Soeharto.

 

*Keseriusan Pemerintah dipertanyakan*

Tentunya, keseriusan pemerintah dalam mewujudkan lumbung pangan perlu dipertanyakan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mitigasi kegagalan membangun lumbung pangan justru tidak dilakukan? Mengapa pemerintah tidak memberikan solusi untuk petani lokal?

 

Akibatnya, banyak petani yang mengalami kegagalan dan lebih memilih untuk meninggalkan lahannya atau dijual. Alhasil petani makin malas melakukan aktivitas pertanian, bahkan memilih pensiun sebagai petani.

 

*Islam Sebagai Solusi*

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna tentunya akan menyelesaikan persoalan pangan dari hulu hingga hilir. Tentu, tidak sekedar mewujudkan ketahanan pangan saja, namun juga kedaulatan pangan. Negara bertanggung jawab penuh dalam membantu petani, lebih dari itu akan me-riayah (mengurusi) pangan mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga sampai ke tangan konsumen terakhir, yaitu rakyat.

 

Tentunya, negara tidak boleh menyerahkan urusan pangan pada swasta. Terlebih melakukan kerjasama yang hanya akan membahayakan rakyat dan menunjukkan wajah asli kelepastanganan pemerintah pada peran utama sebagai pengurus urusan rakyatnya. Ini sebab, kerjasama yang dibangun bukan berdasarkan pelayanan atau pengurusan rakyat, melainkan untuk urusan bisnis yang hanya menguntungkan bagi segilintir orang, bukan rakyat secara keseluruhan.

 

Keberadaan negara yang menerapkan Islam ditengah-tengah rakyat sangatlah didambakan. Bagaimana tidak? Sistem kapitalisme yang ditetapkan saat ini hanya akan memberikan kesengsaraan pada rakyat. Membuat kebijakan demi kebijakan hanya berorientasi pada materi dan keuntungan bukan kepentingan rakyat. Ia hanya akan melanggengkan penjajahan atas rakyat. Maka jangan heran bila disistem kapitalisme negara hanya hadir sebagai regulator, pengatur. Bukan sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Sungguh berbeda jauh dengan Islam.

 

IsIam mewajibkan negara untuk bertanggung jawab penuh menjamin kebutuhan setiap individu. Bahkan jika akan menjalin Kerjasama dengan asing politik luar negeri, negara tidak akan tergantung pada modal swasta ataupun asing. Islam memandang tiap amanah adalah tanggung jawab yang besar kelak dihadapan Allah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits :

 

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari)

 

Wallahu a’lam bish-shawab



from Suara Inqilabi https://ift.tt/jNEtDMs
May 19, 2024 at 08:05AM

Belum ada Komentar untuk "Proyek Sawah Cina, solusi ketahanan pangan Indonesia?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel