Menyoal Kurikulum Cambridge, Ancaman Kapitalisme Sekuler di Madrasah

Menyoal Kurikulum Cambridge, Ancaman Kapitalisme Sekuler di Madrasah
Oleh: Novi Ummu Mafa
Pendidikan merupakan pilar fundamental dalam membangun sebuah peradaban. Kualitas generasi muda mencerminkan kualitas suatu bangsa. Namun, arah pendidikan modern yang saat ini kita saksikan di berbagai institusi, termasuk di madrasah, menunjukkan adanya kecenderungan yang kuat untuk memenuhi tuntutan kapitalisme sekuler. Dalam konteks ini, implementasi kurikulum Cambridge di madrasah telah menjadi bahan evaluasi dan kritik yang mendalam.
Cambridge di Madrasah: Solusi atau Tantangan?
Cendekiawan muslim sekaligus pemerhati pendidikan Ustadzah Yusriana mengatakan bahwa Program Cambridge, sebagaimana diterapkan di beberapa Madrasah Aliyah Negeri (MAN), terutama di Kepulauan Riau dan Batam, membawa serta kurikulum yang berstandar internasional. Kurikulum ini menekankan penguasaan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan persiapan untuk dunia kerja global. Dari satu sisi, hal ini tampak sebagai kemajuan signifikan bagi madrasah yang dulu dikenal sebagai institusi keagamaan. Namun, kritik terhadap kurikulum ini muncul ketika dilihat dari perspektif agama dan sosial. Kamis,17-10-2024, di kanal YouTube Supremacy.
Madrasah pada awalnya didirikan sebagai lembaga yang mengakomodir kebutuhan pendidikan agama di Indonesia, khususnya bagi mayoritas Muslim. Oleh karenanya, pengenalan kurikulum asing yang berfokus pada persaingan kerja global memunculkan kekhawatiran bahwa madrasah akan kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan agama. Dengan semakin berkurangnya porsi pembelajaran agama dalam kurikulum Cambridge, madrasah secara bertahap mengadopsi fungsi yang mirip dengan sekolah umum, yang akhirnya bisa mereduksi identitas keagamaannya.
Kritik terhadap Sekularisasi Pendidikan
Kapitalisme sekuler menempatkan pendidikan dalam kerangka materi dan utilitarianisme, di mana pendidikan dianggap sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan industri dan perusahaan. Pendidikan di madrasah, yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai spiritual dan moral, kini diarahkan untuk mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di pasar global. Penekanan pada nilai-nilai materi semata, tanpa memperhitungkan pembangunan karakter Islami, justru melemahkan visi pendidikan sebagai sarana pembentukan kepribadian yang holistik.
Hal ini selaras dengan kritikan terhadap sistem pendidikan kapitalis di negara-negara Barat. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang, meskipun memiliki teknologi canggih, menghadapi masalah sosial serius seperti tingginya angka bunuh diri, perzinahan, hingga pernikahan sejenis. Kondisi ini menggambarkan bahwa pembangunan teknologi dan ekonomi yang pesat tidak diimbangi dengan pembentukan moral dan spiritual yang kuat.
Solusi Islam terhadap Tantangan Pendidikan
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar alat untuk memenuhi tuntutan pasar kerja, melainkan sarana untuk membangun manusia dengan karakter yang mulia dan kuat dalam keimanan. Islam menawarkan sistem pendidikan yang holistik, di mana ilmu agama dan ilmu umum berjalan secara harmonis dan tidak dipisahkan. Penerapan kurikulum yang berbasis akidah Islam memberikan arah yang jelas dalam pembentukan generasi yang cerdas secara intelektual dan berakhlak mulia.
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa penerapan sistem pendidikan yang berbasis pada ajaran Islam mampu melahirkan banyak cendekiawan besar, seperti Al-Khawarizmi di bidang matematika dan Ibnu Sina di bidang kedokteran. Pendidikan Islam pada masa kejayaan peradaban Islam tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga pada penguasaan ilmu pengetahuan umum dan teknologi yang mendukung kemajuan umat.
Dalam sistem pendidikan Islam, seluruh jenjang dan institusi pendidikan berlandaskan akidah Islam tanpa membedakan antara sekolah umum maupun agama. Visi utama pendidikan Islam adalah mencetak generasi yang memiliki pola pikir dan sikap sesuai dengan prinsip Islam, atau yang dikenal sebagai saksiyah Islamiyah, melalui kurikulum berbasis akidah Islam. Tujuannya adalah melahirkan generasi dengan akhlak yang luhur, kecerdasan intelektual, serta kekuatan iman yang didukung oleh ekonomi Islam yang sejahtera dan kebijakan berdasarkan syariat Islam. Pendidikan gratis dapat dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat. Dalam konteks ini, penerapan kurikulum Cambridge yang lebih berfokus pada dunia kerja dan aspek materi dianggap tidak selaras dengan tujuan hakiki pendidikan Islam yang menitikberatkan pembentukan kepribadian Islami.
Oleh karena itu, meskipun program Cambridge menawarkan standar pendidikan internasional yang diakui secara global, penerapannya di madrasah patut dievaluasi dengan kritis. Madrasah, sebagai lembaga yang awalnya didirikan untuk menjaga identitas keagamaan, tidak seharusnya kehilangan fokusnya dalam mencetak generasi yang Islami. Jika madrasah terus mengadopsi kurikulum yang berorientasi pada kapitalisme sekuler, maka identitas dan misi utamanya akan terancam hilang.
Solusi yang lebih tepat bagi madrasah adalah dengan kembali kepada sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah Islamiah yang holistik, yang mampu mencetak generasi unggul baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam spiritualitas. Inilah yang akan membangun peradaban mulia yang berkarakter kuat, sesuai dengan tuntunan Islam.
Wallahu a’lam bish-shawwab
from Suara Inqilabi https://ift.tt/EeB7r4f
October 26, 2024 at 08:01PM
Belum ada Komentar untuk "Menyoal Kurikulum Cambridge, Ancaman Kapitalisme Sekuler di Madrasah "
Posting Komentar