Ketika Anak Kecanduan Pornografi

Ketika Anak Kecanduan Pornografi
Penulis: Gita Zafitri, S.Pd (Praktisi Pendidikan)
Miris, baru-baru ini jagat maya kembali dihebohkan oleh kelakuan bejat empat remaja di Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, yang masih berusia di bawah umur 17 tahun. Mereka adalah IS (16), MZ (13), MS (12) dan AS (12) yang tega memperkosa dan membunuh siswi SMP AA yang masih berusia 13 tahun. Jasad korban ditemukan di tempat pemakaman umum (TPU) Talang Kerikil pada Minggu (1/9/2024).
Setelah dilakukan gelar perkara, keempat remaja itu pun mengaku tega berbuat demikian untuk menyalurkan hasrat usai menonton video porno. IS yang diduga kekasih korban memiliki sejumlah video porno di ponselnya. IS mengaku sempat menonton film tersebut sebelum memerkosa dan membunuh korban.
“Kami telah menyita bukti yang ditemukan di HP milik pelaku. Ditemukan beberapa video cabul (film porno) yang telah dikumpulkan IS (pelaku utama),” kata Haryo, Kamis. Jumat, 06 Sep 2024 08:56 WIB. (www.cnnindonesia.com)
Sungguh menyayat hati. Generasi yang seharusnya sibuk belajar dan bermain justru berbuat kriminal. Fakta tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak permasalahan generasi masa kini. Adanya permasalahan ini tidak terlepas dari penerapan sistem sekuler kapitalisme dalam kehidupan ini. Akibatnya, generasi berbuat semaunya atas nama liberalisasi atau kebebasan. Selain itu, jauhnya generasi dari syariat Islam yang membuat mereka berbuat secara bebas tanpa memikirkan halal dan haram.
Sementara itu, pemerintah yang bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya dan punya kontrol penuh terhadap media terbukti belum mampu menjauhkan generasi dari bahaya pornografi. Yang ada, generasi justru semakin bebas mengakses link media apapun tanpa batas yang berakibat pada tindak asusila hingga hilangnya nyawa.
Penerapan sistem sekuler kapitalisme telah mempengaruhi segala hal terutama lingkungan yang penuh dengan kebebasan. Sebagaimana yang kita ketahui lingkungan Ibarat air, remaja bisa berubah dengan cepat mengikuti lingkungannya. Jika lingkungannya baik, maka generasi pun ikut baik. Sebaliknya, jika lingkungannya buruk seperti suka nonton konten pornografi maka mereka pun ikut-ikutan sebagaimana yang dilakukan keempat remaja tersebut.
Padahal menonton konten pornografi dalam jangka waktu tertentu bisa menyebabkan perubahan struktural pada otak yang berdampak pada penurunan fungsi otak, sulitnya mengambil keputusan, sulit kontrol impuls, dan empati. Demikianlah pengaruh pornografi terhadap remaja saat ini, yang harus menjadi perhatian semua kalangan, baik orang tua, guru dan khususnya negara.
Solusi dalam Sistem Islam
Hal demikian tentu berbeda dalam sistem Islam yang disebut Khilafah. Negara dalam sistem Islam akan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh hingga seluruh masyarakat terikat pada aturan Allah Swt. Generasi pun akan dibekali pemahaman Islam lewat pendidikan yang berbasis syariah Islam agar mereka memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islamiyah. Dengan begitu, akan tercetak generasi yang unggul, tangguh, dan taat pada Allah dan Rasul-Nya.
Selain itu, sistem Islam juga akan menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan. Hingga tak satupun masyarakat termasuk generasi yang berani melanggar. Karena mereka memahami bahwa setiap pelanggaran akan dikenai hukuman setimpal jika melakukan pembunuhan secara sengaja. Hukuman pelaku pembunuhan adalah dibunuh dengan cara dipenggal. Sebagaimana firman Allah Swt.,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu (melaksanakan) kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS Al-Baqarah [2]: 178).
Dengan demikian, agar generasi tak ikut arus atau kecanduan pornografi maka negara akan bertanggung jawab penuh dalam mengontrol media. Sehingga tak akan didapati konten pornografi yang jelas merusak umat. Sebaliknya, negara hanya akan menayangkan konten-konten bermanfaat yang dapat menambah keimanan kepada Allah Swt.
Wallahu ‘alam Bishawab
from Suara Inqilabi https://ift.tt/NY6u8Ad
September 29, 2024 at 09:01AM
Belum ada Komentar untuk "Ketika Anak Kecanduan Pornografi"
Posting Komentar