Tingkat Pengangguran Tinggi, Salah Siapa?

Tingkat Pengangguran Tinggi, Salah Siapa?
Oleh Ika Wulandari S.
Tingginya angka pengangguran di Indonesia telah mencerminkan kegagalan negara dalam menciptakan lapangan pekerjaan untuk rakyat. Hal ini menjadi tantangan negara dalam penciptaan lapangan pekerjaan yang memadai. Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan jumlah pengangguran menjadi 7,2 juta orang pada Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka masih mencapai 4,82%, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN, (CNBC Indonesia,19/07/2024).
Kebijakan Ekonomi Yang Tidak Efektif
Penyebab tingginya pengangguran salah satunya adalah fenomena deindustrialisasi. Dimana sektor industri mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini mirip dengan pengalaman beberapa negara di Amerika Latin. Yang mana terjadi pergeseran dari sektor industri ke sektor primer akibat dari meningkatnya harga komoditas global. Kebijakan yang kurang tepat dalam pengelolaan sumber daya alam dan industri juga berkontribusi terhadap masalah ini. (Kompas.id, 22/03/2024).
Selain itu ketidak cocokan pendidikan dan kebutuhan pasar kerja bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi sering kali tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri. Ketidakselarasan antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan pasar kerja menyebabkan banyak lulusan terutama dari SMK yang menganggur. Data menunjukkan bahwa sekitar 1,6 juta lulusan SMK menganggur, yang merupakan 20% dari total pengangguran, (CNBC Indonesia, 08/05/2024).
Sementara itu, Indonesia juga mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja asing (TKA) yang mencapai sekitar 168.000 pada tahun 2023 dengan mayoritas berasal dari China. (Databoks, 06/05/2024). Banyak TKA yang dipekerjakan di sektor industri dan jasa yang seharusnya bisa diisi oleh tenaga kerja lokal. Hal ini menambah tekanan pada pasar kerja domestik dan mengurangi kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan.
Begitu juga pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) syarat dengan praktek kapitalisme. Dimana pengelolaan SDA pada sistem kapitalis hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, sering sekali mengabaikan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Hal ini seharusnya dapat menghasilkan banyak kesempatan kerja untuk rakyat Indonesia, malah justru diambil alih oleh tenga kerja asing (TKA). Akibatnya rakyat sendiri kehilangan kesempatan kerja sampai harus menjadi TKI.
Solusi Berdasarkan Prinsip Islam
Dalam konteks sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk mengurus rakyatnya. Termasuk menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
Menata ulang kebijakan makro ekonomi dangan cara menata ulang sistem APBN sesuai syariat. Yakni baitulmal dengan 3 pos pendapatan utama yang berasal dari penelolaan harta milik umum, pengelolaan harta negara dan pengelolaan zakat mal.
Pengelolaan SDA secara mandiri dan berkelanjutan yang diselenggarakan sesuai dengan Syariat Islam. Negara tidak membiarkan SDA hanya dinikmati sekelompok orang saja.
Reformasi Kurikulum Pendidikan yang tidak hanya sebatas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi juga menyesuaikan dengan kurikulum pendidikan Islam yang berbasis pada akidah. Sehingga dapat terbentuk SDM unggul dan berkepribadian sholih serta dapat mengelola SDA dengan baik dan penuh tanggungjawab sesuai dengan keahliannya.
Dengan menerapkan kebijakan yang sesuai dengan syariat/sistem islam akan menumbuhkan ekonomi yang produktif, sejahtera dan adil bagi semua manusia baik muslim maupun non muslim. Sehingga diharapkan dapat menekan tingkat pengangguran di Indonesia dan lebih banyak lagi menciptakan lapangan pekerjaan.
Wallahu alam Bisshowab.
from Suara Inqilabi https://ift.tt/08FINjP
July 31, 2024 at 06:56AM
Belum ada Komentar untuk "Tingkat Pengangguran Tinggi, Salah Siapa?"
Posting Komentar