Umat Islam Tanpa Junnah: Teraniaya di Tengah Standar Ganda Dunia

Umat Islam Tanpa Junnah: Teraniaya di Tengah Standar Ganda Dunia
Oleh Endah Dwianti, S.E. CA., M.Ak.
(Pengusaha)
Krisis kemanusiaan yang melanda umat Islam di berbagai belahan dunia terus berlanjut tanpa henti. Baru-baru ini, tragedi kemanusiaan kembali menimpa saudara-saudara kita, muslim Rohingya, yang hidup dalam ketakutan dan penderitaan yang tak terbayangkan.
Serangan drone yang dilancarkan terhadap para pengungsi Rohingya di Myanmar telah menewaskan puluhan orang yang tak bersalah. Mereka hanya ingin melarikan diri dari penindasan yang tak berkesudahan. (voaindonesia.com, 12 Agustus 2024)
Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana umat Islam terus menjadi korban penindasan di berbagai tempat. Namun, tragedi ini bukanlah satu-satunya.
Di Palestina, khususnya di Gaza, umat Islam juga mengalami nasib serupa. Entitas penjajah Yahudi terus melancarkan serangan terhadap warga sipil Palestina, dengan dalih keamanan, yang mengakibatkan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak dan perempuan.
Salah satu serangan terbaru menargetkan sebuah sekolah di Gaza, menewaskan 90 orang yang berlindung di sana. (voaindonesia.com, 12 Agustus 2024). Hal yang lebih mengejutkan adalah di tengah kekejaman ini, Amerika Serikat justru mengirimkan bantuan persenjataan senilai Rp558 triliun kepada entitas penjajah Yahudi. Ini menunjukkan standar ganda yang mencolok dalam kebijakan luar negerinya. (republika.com, 13 Agustus 2024)
Standar Ganda Dunia Barat
Kejadian-kejadian ini menunjukkan dengan jelas bagaimana standar ganda terus dimainkan oleh negara-negara Barat dalam kebijakan internasional mereka. Di satu sisi, mereka berbicara tentang hak asasi manusia dan perdamaian, tetapi di sisi lain mereka mendukung tindakan yang jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip tersebut.
Asalkan sesuai dengan kepentingan politik dan ekonominya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana keadilan bagi umat Islam? Umat Islam di berbagai belahan dunia, mulai dari Rohingya hingga Palestina, terus-menerus berada dalam kondisi teraniaya.
Penindasan ini terjadi karena tidak adanya kekuatan yang dapat melindungi mereka, sebuah “junnah” yang dalam Islam berarti perisai atau pelindung. Tanpa adanya kekuatan yang melindungi, umat Islam menjadi sasaran empuk bagi kekuatan yang lebih besar, yang tidak segan-segan melakukan apa saja demi mencapai tujuan mereka.
Pentingnya Junnah dalam Islam
Junnah dalam konteks Islam memiliki arti yang mendalam. Sejak zaman Rasulullah saw., junnah adalah kekuatan yang melindungi umat dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar. Ketika Rasulullah membangun negara Islam di Madinah, umat Islam menjadi kuat dan disegani oleh musuh-musuhnya.
Negara Islam yang dibangun Rasulullah dan kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin memberikan perlindungan dan keadilan bagi seluruh umat, tidak peduli latar belakang mereka.
Namun, setelah Khilafah runtuh pada awal abad ke-20, umat Islam kehilangan junnah tersebut. Tanpa adanya negara Islam yang kuat dan berdiri tegak, umat Islam di berbagai belahan dunia menjadi lemah dan mudah ditindas. Saat ini, umat Islam hidup dalam kondisi yang sangat berbeda dibandingkan dengan masa kejayaan Islam. Umat terpecah belah, terhina, dan sering kali tidak mampu melindungi diri dari berbagai ancaman, baik dari luar maupun dari dalam.
Membangun Kesadaran dan Persatuan Umat
Kini, saatnya bagi umat Islam untuk kembali membangun kesadaran akan pentingnya memiliki junnah, yang hanya bisa terwujud melalui persatuan umat dalam naungan Khilafah. Kesadaran ini harus ditanamkan melalui dakwah Islam yang ideologis, yang tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada aspek politik dan sosial.
Kelompok-kelompok dakwah yang memiliki visi ini harus bergerak dengan lebih giat untuk menyadarkan umat akan pentingnya kembali kepada sistem Islam yang kafah, yang tidak hanya akan melindungi umat, tetapi juga akan membawa kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Khilafah bukanlah sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak bagi umat Islam saat ini. Hanya dengan Khilafah, umat Islam dapat kembali meraih kejayaan, kehormatan, dan perlindungan yang mereka butuhkan. Dalam sistem Khilafah, sumber daya umat akan dikelola dengan baik, dan kepemimpinan yang adil akan memastikan bahwa tidak ada umat yang teraniaya atau hidup dalam ketakutan.
Penindasan terhadap umat Islam di Rohingya dan Palestina adalah cerminan dari kondisi umat yang lemah tanpa junnah. Standar ganda dunia Barat, yang terus mendukung penindasan terhadap umat Islam, hanya akan semakin memperburuk keadaan. Kini saatnya umat Islam menyadari bahwa tanpa Khilafah, mereka akan terus hidup dalam kondisi teraniaya. Kesadaran ini harus dibangun melalui dakwah Islam yang ideologis, yang menekankan pentingnya persatuan dan kembalinya umat kepada sistem Islam yang kafah.
Wallahualam bissawab.
from Suara Inqilabi https://ift.tt/vIYlso7
August 22, 2024 at 06:57AM
Belum ada Komentar untuk "Umat Islam Tanpa Junnah: Teraniaya di Tengah Standar Ganda Dunia"
Posting Komentar